BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Matematika merupakan salah satu
cabang ilmu pengetahuan yang mempunyai peranan penting dalam dunia pendidikan. Pembelajaran
matematika dapat membuat siswa mampu memahami konsep matematika. Dapat menjelaskan keterkaitan antar konsep,
mengembangkan kemampuan memecahkan masalah, mengkomunisasikan gagasan sekaligus
memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan
Mengingat pentingnya matematika dalam
segala bidang maka peningkatan kualitas atau mutu pendidikan matematika harus
terus dibenahi. Pemerintah telah melakukan berbagai usaha untuk meningkatkan
kualitas mutu atau sistem pengajaran matematika. Diantaranya meningkatkan
kualitas guru matematika melalui penataran-penataran, melengkapi sarana dan prasarana
pendidikan serta penyempurnaan kurikulum.
Berdasarkan pengalaman belajar yang
penulis rasakan yaitu cenderung
berlangsung satu arah, dimana dari guru ke siswa. Guru menjelaskan materi,
memberikan beberapa contoh soal, guru memberikan kesempatan bertanya, lalu
siswa mencatat yang dituliskan guru di papan tulis dan dilanjutkan dengan
mengerjakan beberapa soal latihan. Guru masih memandang belajar sebagai
perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah pemindahan pengetahuan ke
siswa.
Dalam proses pembelajaran
kurang terjadi komunikasi dua arah antara guru dan siswa, karena kurangnya
respon siswa terhadap pertanyaan yang diberikan guru dan juga siswa kurang
termotivasi untuk bertanya. Sehingga aktivitas siswa hanya mencatat dan siswa
cenderung pasif dalam proses pembelajaran dan yang lebih ironis sekali siswa
kurang tertarik dengan materi pelajaran yang disajikan guru. Hal ini
diperlihatkan melalui tingkah laku seperti mengantuk, berbicara dengan teman di
sampingnya, dan permisi keluar masuk kelas serta hasil belajar matematika siswa
rendah.
Untuk mengatasi
hal tersebut, perlu dilakukan metode-metode pembelajaran yang dapat
meningkatkan minat belajar siswa, seperti pembelajaran membuat kelompok belajar
atau melibatkan siswa dengan diskusi-diskusi kelompok. Pembelajaran kooperatif
dalam matematika akan dapat membantu siswa dalam mengembangkan ide, gagasan
atau pendapat, serta dapat meningkatkan motivasi belajar. Dalam pembelajaran
kooperatif banyak yang dapat dilakukan dalam diskusi, salah satunya model Co-op
Co-op (kerja sama).
Pembelajaran
kooperatif model Co-op Co-op (kerja sama) ini mungkin dapat melihat pemahaman siswa secara
individu melalui diskusi kelompok dan diskusi kelas, dapat mengembangkan
potensi yang dimilki siswa, dapat melatih
berinteraksi dan berkomunikasi, dan dapat menumbuhkan semangat kompetisi
dan saling menghargai pendapat diantara anggota kelompok.
Berdasarkan uraian diatas, penulis
tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe Co-op Co-op (kerja sama) Pada Pembelajaran Matematika”
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas dapat disimpulkan identifikasi masalah sebagai berikut :
1.
Pembelajaran
masih ada yang berpusat pada guru
2. Motivasi belajar matematika siswa masih rendah
3. Aktivitas dan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran
masih kurang
4. Hasil belajar matematika siswa masih rendah
C. Pembatasan
Masalah
Agar penelitian ini
terarah dan mengingat keterbatasan penulis, maka perlu dilakukan pembatasan
masalah sebagai berikut:
a.
Aktivitas
belajar siswa yang pembelajarannya menerapkan model pembelajaran kooperatif
tipe Co-op Co-op (kerja sama) dalam
pembelajaran matematika.
b.
Hasil
Belajar siswa yang pembelajarannya menerapkan model pembelajaran kooperatif
tipe Co-op Co-op (kerja sama) dalam
pembelajaran matematika siswa.
D. Perumusan Masalah
Rumusan masalah
dalam penilitian ini adalah ”Apakah aktivitas siswa dan hasil belajar matematika siswa yang pembelajarannya menggunakan pembelajaran kooperatif model Co-op Co-op (kerja sama) lebih baik dari aktivitas dan hasil
belajar matematika siswa yang pembelajarannya menggunakan pembelajaran biasa.
E. Tujuan Penelitian
Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah aktivitas dan hasil belajar matematika siswa yang
pembelajarannya menggunakan pembelajaran kooperatif model Co-op Co-op
(kerja sama) lebih baik dari
hasil belajar matematika siswa yang pembelajarannya menggunakan pembelajaran
biasa.
F. Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah
dan kajian teori yang telah penulis kemukakan, maka yang menjadi hipotesis dan
pertanyaan penelitian ini adalah:
1. Aktivitas belajar siswa meningkat dengan menggunakan pembelajaran
kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama).
2. Hasil
belajar matematika siswa yang menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama) lebih baik dari pada siswa yang belajar
dengan menggunakan pembelajaran biasa pada siswa.
G. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan untuk :
1. Tambahan
pengetahuan bagi penulis dalam usaha meningkatkan kemampuan diri menjadi tenaga
pendidik yang professional.
2. Informasi
bagi guru bidang studi matematika untuk meningkatkan hasil belajar matematika.
H. Asumsi
Landasan pemikiran yang bisa dijadikan dijadikan
sebagai asumsi dalam penelitian ini adalah:
1. Setiap
siswa mempunyai latar belakang pengetahuan dan kesempatan yang sama dalam
proses belajar mengajar matematika.
2. Setiap
siswa kelas eksperimen sudah mempelajari paket pengajaran yang diberikan
sebelum jam pelajaran tatap muka.
BAB II
KERANGKA TEORITIS
A.
Kerangka Teoritis
1. Tinjauan
tentang Pembelajaran Matematika
Proses pembelajaran pada hakekatnya adalah proses
komunikasi antara guru dengan siswa sehingga terjadi perubahan tingkah laku
yang lebih baik. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut
perubahan yang bersifat pengetahuan, keterampilan, maupun yang menyangkut nilai sikap. Menurut Sardiman (2006: 158) ”pembelajaran adalah proses
yang diselenggarakan oleh guru untuk siswa dalam belajar, bagaimana belajar
memperoleh dan memproses pengetahuan, keterampulan, dan sikap”.
Pembelajaran
merupakan suatu upaya menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa dapat
belajar, mengenal dan memahami materi pembelajaran dengan lebih baik. Salah
satunya adalah pada pembelajaran matematika, pembelajaran matematika merupakan
upaya atau usaha guru dalam mengkonstruksikan konsep-konsep matematika dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Menurut Nikson
dalam Muliyardi (2003: 3) mengatakan bahwa:
Pembelajaran matematika adalah upaya untuk
membantu siswa mengkonstruksikan konsep-konsep atau prinsip-prinsip matematika
dengan kemampuan sendiri melalui proses internalisasi sehingga prinsip atau
konsep itu terbangun kembali
Pembelajaran
matematika membutuhkan peranan aktif siswa, proses bernalar yang tinggi dalam
mengaitkan simbol-simbol, dan mengaplikasikan konsep-konsep yang ada ke dalam
situasi nyata. Untuk itu guru harus menumbuhkan minat dan keaktifan siswa dalam
pembelajaran matematika. Salah satu yang dapat dilakukan guru yaitu dengan
menerapkan metode dan strategi mengajar yang tepat agar tercipta kegiatan
mental yang meliputi proses aktif dari dalam diri siswa yang dilakukan untuk
memperoleh pengetahuan baru dalam penyelesaian masalah matematika.
2. Tinjauan
tentang model pembelajaran kooperatif
Pembelajaran
kooperatif merupakan pembelajaran yang menekankan siswa untuk bekerja secara kelompok dalam
menyelesaikan suatu permasalahan. Cohen dalam Nur
(2008:1) mendefenisikan pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
Cooperative learning will
be defined as student working together in a group small enough that everyone
participate on a collective task that has been clearly assign. Moreover,
students are expected to carry out their task without direct and immediate
supervision of the teacher.
Pembelajaran kooperatif adalah pendekatan
yang mencakup kelompok kecil dari siswa yang bekerja sama sebagai suatu tim
untuk memecahkan masalah. Davidson dan Kroll dalam Nur (2008:1) mendefenisikan
pembelajaran kooperatif adalah kegiatan yang berlangsung di lingkungan belajar
siswa dalam kelompok kecil yang saling berbagi ide-ide dan bekerja secara
kolaboratif untuk memecahkan masalah-masalah yang ada dalam tugas mereka.
Berdasarkan pendapat kedua ahli ini dapat
disimpulkan, pembelajaran kooperatif mengandung pengertian bahwa dalam
pembelajaran kooperatif siswa belajar bersama, saling menyumbang pemikiran dan
bertanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar secara individu maupun
kelompok. Selanjutnya Suyatno (2009:51) menjelaskan bahwa pembelajaran
kooperatif menekankan belajar dalam kelompok heterogen saling membantu satu
sama lain, bekerja sama menyelesaikan masalah, dan menyatukan pendapat untuk
memperoleh keberhasilan yang optimal baik kelompok maupun individu.
Pembelajaran
kooperatif dapat dipandang sebagai model pembelajaran yang menekankan aktifitas
siswa untuk berdiskusi dalam kelompok kecil
untuk menyelesaikan permasalahan dalam pembelajaran. Untuk mencapai hasil diskusi
yang baik, menurut Muslimin (2002 : 6) ada unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif yang harus
diperhatikan sebagai berikut :
a.
Siswa
dalam anggotanya haruslah beranggapan bahwa mereka “sehidup sepenanggungan
bersama.”
b.
Siswa
bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya, seperti milik diri
mereka sendiri.
c.
Siswa
haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya mamiliki tujuan yang
sama.
d.
Siswa
haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota
kelompoknya.
e.
Siswa
akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/penghargaan yang juga akan
dikenakan untuk semua anggota kelompok.
f.
Siswa
berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama
selama proses belajarnya
g.
Siswa
akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani
dalam kelompok kooperatif
Pembelajaran kooperatif bisa diibaratkan
sebagai pembelajaran gotong royong demi keberhasilan bersama. Menurut Anita (2002:30) untuk mencapai hasil
yang maksimal ada 5 unsur model pembelajaran gotong royong yang harus
diterapkan yaitu:
a.
Saling
ketergantungan positif
b.
Tanggung
jawab perseorangan
c.
Tatap
muka
d.
Komunikasi
antar anggota
e.
Evaluasi
proses kelompok
Pembelajaran
kooperatif dapat dipandang sebagai model pembelajaran yang menekankan aktifitas
siswa dalam kelompok kecil, di mana siswa saling membantu dan bekerja sama dalam
mempelajari suatu materi pembelajaran yang diberikan oleh guru secara
berkelompok. Model belajar kooperatif dirancang sedemikian rupa untuk
memberikan pengalaman langsung kepada siswa untuk berinteraksi dan bekerja
sama dengan orang lain. Lufri (2006:51) pembelajaran kooperatif bercirikan:
a. Anak didik bekerja dalam kelompok secara
kooperatif untuk menuntaskan bahan pelajaran
b. Kelompok dibentuk dari anak didik yang memiliki
kemampuan tinggi, sedang, dan rendah
c. Bila mungkin anggota kelompok dari ras,
budaya, jenis kelamin berbeda
d. Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang
individu.
Jadi, pembelajaran
kooperatif mendasarkan pada suatu ide bahwa siswa
bekerja sama dalam belajar kelompok dan sekaligus masing-masing bertanggung
jawab pada aktifitas belajar anggota kelompoknya, sehingga seluruh anggota
kelompok dapat menguasai materi pelajaran dengan baik. Kegiatan siswa dalam
pembelajaran kooperatif antara lain mengikuti penjelasan guru secara aktif,
menyelesaikan tugas-tugas dalam kelompok, memberikan penjelasan kepada teman
kelompoknya, mendorong teman kelompoknya untuk berpartisipasi secara aktif, dan
berdiskusi. Agar kegiatan siswa berlangsung dengan baik dan lancar diperlukan
keterampilan-keterampilan khusus, yang disebut keterampilan kooperatif.
Keterampilan kooperatif dapat dibangun dengan mengembangkan komunikasi dan
pembagian tugas antara anggota kelompok.
3.
Tinjauan
tentang Pengelompokan dalam Pembelajaran Kooperatif
Kelompok
belajar adalah kumpulan beberapa siswa yang saling bekerja sama dalam
menyelesaikan suatu masalah. Kelompok belajar ini terdiri dari 4 sampai 5 orang
siswa yang memiliki peranan dalam kelompoknya. Peran yang diberikan pada
masing-masing siswa sebagai anggota kelompok akan menumbuhkan rasa tanggung
jawab individual yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan kelompok mereka.
Pengelompokkan yang akan dilakukan pada
metode ini adalah pengelompokan heterogen. Pengelompokkan heterogen dibentuk
dengan memperhatikan keanekaragaman gender, kemampuan akademis, etnik dan latar
belakang sosial ekonomi. Akan tetapi pada penelitian ini berdasarkan
keterbatasan yang penulis miliki maka pengelompokan heterogen ini hanya
dibentuk dengan memperhatikan kemampuan akademis saja. Dengan adanya perbedaan
tersebut maka siswa dapat saling bekerja sama dan saling tolong menolong dalam
kegiatan pembelajaran untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Siswa yang
berkemampuan tinggi membantu siswa yang berkemampuan rendah. Hal ini
menciptakan interaksi antar siswa dan guru berperan sebagai pembimbing yang
membimbing siswa.
Pembagian anggota kelompok berdasarkan kemampuan akademis dapat dilakukaan dengan cara membagi anggota kelompok pembelajaran yang terdiri dari satu orang berkemampuan
akademis tinggi, dua orang berkemampuan sedang dan yang lainnya dari kelompok
yang kemampuan akademisnya kurang Anita (2002: 40)). Selanjutnya Anita (2002: 42) menambahkan bahwa terdapat tiga keuntungan
dari pembentukan kelompok heterogen berdasarkan kemampuan akademis yaitu:
a. Memberikan kesempatan untuk saling
mengajar (peer tutoring) dan saling
mendukung.
b. Meningkatkan relasi dan interaksi antar
ras, etnik, dan keturunan/gender.
c. Dapat memudahkan pengelolaan kelas.
4.
Tinjauan tentang Pembelajaran Kooperatif Tipe Co-op Co-op (kerja
sama)
Model pembelajaran kooperatif
merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil
yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya,
setiap anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk
memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan
belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan
pelajaran.
Slavin (2009:229) menyatakan bahwa
model pembelajaran kooperatif tipe Co-op
Co-op (kerja sama) menempatkan tim dalam kooperasi antara satu dengan yang
lainnya untuk mempelajari sebuah topik di kelas.
Model pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama) adalah sebuah
group investigation yang cukup familiar. Tipe Co-op Co-op (kerja sama) memberi kesempatan pada siswa untuk
bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil, pertama untuk meningkatkan
pemahaman mereka tentang diri mereka dan lingkungan sekitar, dan selanjutnya
memberikan mereka kesempatan untuk saling berbagi pemahaman baru itu dengan
teman-teman sekelasnya. Ada sembilan langkah spesifik yang perlu diperhatikan
dalam pembelajaran kooperatif tipe Co-op
Co-op (kerja sama) berikut ini (Slavin: 2009: 229).
1)
Diskusi
Kelas Terpusat pada Siswa
Pada awal memulai unit pelajaran di
kelas dimana tipe Co-op Co-op (kerja
sama) digunakan, para siswa perlu didorong untuk menemukan dan mengekspresikan
ketertarikan mereka sendiri terhadap subjek yang akan dicakupi. Serangkaian
kegiatan membaca, menyampaikan pelajaran, atau pengalaman dapat dilakukan untuk
tujuan ini. Lalu lakukan diskusi kelas yang terpusat pada siswa. Tujuan dari
diskusi ini haruslah dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran
unit pelajaran dengan membuka dan memancing rasa ingin tahu mereka, bukan untuk
mengarahkan kepada topik khusus untuk dipelajari. Diskusi harus mengarah pada
sebuah pemahaman diantara guru dan semua siswa mengenai apa yang ingin
dipelajari dan dialami oleh para siswa sehubungan dengan topik yang akan
dicakupi.
2)
Menyeleksi
Tim Pembelajaran Siswa dan Pembentukan Tim
Apabila para siswa belum mulai
bekerja dalam tim, mereka perlu diatur kedalam tim heterogen yang terdiri dari
empat sampai lima anggota. Para siswa perlu memiliki kelompok kerja dengan
kemampuan yang baik dan kepercayaan yang terbangun sebelum memulai tipe Co-op Co-op (kerja sama).
3)
Seleksi
Topik Tim
Siswa memilih topik untuk tim mereka.
Apabila topik tim tidak langsung diikuti dengan diskusi kelas berpusat pada
siswa, guru perlu mengingatkan siswa topik mana yang paling banyak menarik perhatian
seluruh kelas.
4)
Pemilihan
Topik Kecil
Begitu kelas sebagai sebuah
keseluruhan membagi unit pelajaran kedalam bagian-bagian untuk menciptakan
pembagian tugas diantara tim-tim yang ada di kelas, tiap tim membagi topiknya
untuk membuat pembagian tugas diantara anggota tim. Tiap siswa memilih topik
kecil yang mencakup aspek dari topik tim.
5)
Persiapan
Topik Kecil
Setelah para siswa membagi topik tim
mereka menjadi topik-topik kecil, mereka akan bekerja secara individual. Mereka
bertanggung jawab terhadap topik kecilnya masing-masing.
6)
Presentasi
Topik Kecil
Setelah para siswa menyelesaikan
kerja individual, mereka mempresentasikan topik kecil mereka kepada teman satu
timnya. Presentasi dan diskusi kecil di dalam tim dilakukan dengan cara yang
dapat membuat semua teman satu tim memperoleh semua pengetahuan dan pengalaman
yang dilakukan oleh masing-masing anggota tim.
7)
Persiapan
Presentasi Tim
Para siswa didorong untuk memadukan
semua topik kecil dalam presentasi tim. Disana harus ada sintesis aktif dari
topik-topik kecil tersebut supaya selama diskusi tim presentasi akan menjadi
lebih dari sekadar sekumpulan presentasi topik kecil.
8)
Presentasi
Tim
Selama waktu presentasinya, tim
memegang kendali kelas. Semua anggota kelas bertanggung jawab pada bagaimana
waktu, ruang, dan bahan-bahan yang ada di kelas digunakan selama presentasi.
Mereka sangat dianjurkan untuk menggunakan sepenuhnya fasilitas-fasilitas yang
ada di kelas.
9)
Evaluasi
Evaluasi dilakukan pada tiga
tingkatan: (1) pada saat presentasi tim dievaluasi oleh kelas; (2) kontribusi
individual terhadap usaha tim dievaluasi oleh teman satu tim; dan (3)
pengulangan kembali materi atau presentasi topik kecil oleh tiap siswa
dievaluasi oleh sesama siswa.
5. Tinjauan
tentang Pembelajaran Biasa
Pembelajaran
biasa dalam penelitian ini adalah pembelajaran yang biasa dilakukan dalam
pembelajaran yang selama ini, ciri-ciri pembelajaran biasa menurut Depdiknas
(2001:7) sebagai berikut :
a. Siswa menerima informasi secara
pasif.
b. Siswa belajar secara individual yang
dilaksanakan berpasangan.
c. Pembelajaran tidak memperhatikan
pengalaman siswa.
d. Pembelajaran sangat abstrak dan
teoritis.
e. Hasil pembelajaran hanya diukur
dengan tes.
Dari
pendapat di atas terlihat bahwa pembelajaran biasa guru terlalu banyak
berperan, siswa pada umumnya pasif. Siswa hanya menerima materi yang dijelaskan
guru bahkan siswa sering menghafal rumus-rumus matematika kemudian dilatih
untuk menerapkan dalam soal hitungan. Hal ini membuat siswa merasa bahwa
matematika hanya bersifat hitungan saja tanpa tahu kaitannya dengan kehidupan
sehari-hari di sekitar mereka.
Proses
pembelajaran dalam hal ini guru menyampaikan materi, memberikan beberapa contoh
soal, siswa lalu mencatat apa yang dijelaskan guru di papan tulis, mengerjakan
soal-soal latihan, selanjutnya membahas latihan secara bersama-sama dan pada
akhir pembelajaran guru memberikan beberapa soal kepada siswa sebagai pekerjaan
rumah.
6.
Tinjauan
tentang LKS
Selain guru dan siswa, komponen yang
paling penting dalam proses pembelajaran adalah bahan ajar. Bahan ajar yang
baik adalah bahan ajar yang disusun secara sistematis sehingga dapat digunakan
oleh guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Matematika adalah ilmu yang
terstruktur sehingga penyusunan materi bahan ajar yang sistematis akan
memudahkan siswa untuk memahami konsep matematika. Bahan ajar yang akan dibahas lebih lanjut adalah
Lembar Kerja Siswa (LKS), karena
LKS
merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk mengaktifkan siswa
dalam kegiatan pembelajaran, sebagaimana yang
diungkapkan oleh Febrika (2009 : 25): ”LKS adalah lembar
kertas yang mengandung petunjuk kerja siswa mengisikan hasil kerjanya, sehingga
mendapatkan kesimpulan hail kerjanya”.
Jadi, LKS
merupakan suatu unit program pembelajaran yang berisikan materi pelajaran dan
disajikan dalam bentuk tugas, soal dan pertanyaan. Pertanyaan tugas serta
soal-soal tersebut dibuat dan disusun sebaik-baiknya oleh guru sehingga dengan
cara itu siswa dapat menemukan konsep-konsep yang terkandung dalam materi
pembelajaran. Adapun tujuan dan manfaat penggunaan LKS menurut
Irianti (2007 : 20) adalah :
a. Mengaktifkan siswa dalam proses
pembelajaran.
b. Membantu siswa dalam mengembangkan konsep.
c. Melatih siswa untuk menemukan dan
mengembangkan keterampilan proses.
d. Membantu guru dalam menyusun rencana
pembelajaran.
e. Sebagai pedomandan bagi guru dan
siwa dalam melaksanakan proses pembelajaran.
f. Membantu siswa memperoleh catatan
tentang materi yang dipelajari.
g. Membantu siswa untuk memperoleh
informasi tentang konsep yang dipelajari.
Karena LKS
memuat instruksi yang harus diikuti siswa sehingga LKS hendaknya disusun
sedemikian rupa sehingga siswa dapat dengan mudah memahaminya. Langkah-langkah
penyusunan LKS yang dikemukakan oleh Wijaya dalam Fitri (2007: 16) adalah
sebagai berikut:
a. Merumuskan tujuan pengajaran yang akan dicapai dengan
menggunakan LKS.
b. Penyusunan alat evaluasi yang akan
digunakan untuk menguji keberhasilan siswa dalam belajar.
c. Menyusun bahan pelajaran secara logis dan
sistematis yang relevan dengan tujuan.
d. Melukis LKS berdasarkan urutan kegiatan
yang akan dilakukan murid untuk mencapai tujuan.
e. Mencoba dan merivisi LKS yang akan
dirancang.
LKS
merupakan salah satu media pembelajaran yang harus diperhatikan penyusunannya.
Penyusunan LKS ada hal-hal yang tidak boleh diabaikan. Menurut Soekamto dalam
Suhendra (2010: 20) komponen-komponen yang perlu diperhatikan dalam penyusunan
LKS yaitu:
a. Materi dan contoh soal
Materi harus disusun sedemikian rupa agar dapat menunjang
tercapainya kompetensi dasar.
b. Petunjuk penyelesaian
Di dalam LKS harus ada petunjuk penyelesaian soal-soal yang ada.
Petunjuk penyelesaian ini diharapkan dapat memudahkan siswa dalam menyelesaikan
soal-soal yang ada dalam LKS.
c. Soal yang akan dikerjakan
Soal-soal latihan merupakan inti dalam LKS.
Penyusunan LKS harus sesuai dengan materi, berisi petunjuk yang mengarahkan
siswa dalam menyelesaikan soal-soal yang ada di dalam LKS. Petunjuk
penyelesaian tersebut berorientasi pada model pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama) yaitu siswa dituntut untuk membaca dan
memahami materi melalui diskusi kelompok . Siswa harus membaca LKS dan
mendiskusikan materi atau konsep yang tidak dimengerti yang ada pada LKS dalam
kelompoknya. Selanjutnya soal-soal latihan yang ada dalam LKS diselesaikan
secara individual oleh anggota kelompok dalam kelompoknya. Siswa mendiskusikan hasil pekerjaannya bersama
teman kelompok dengan cara saling mengoreksi dan memberi masukan, selanjutnya
guru memilih salah satu kelompok untuk mempresentasikan penyelesaian soal yang
dibahas.
7.
Tinjauan tentang aktivitas siswa dalam belajar
Aktivitas siswa sama maknanya dengan kegiatan atau
perbuatan yang menghendaki gerakan fungsi otak individu yang belajar. Aktivitas tersebut menghasilkan perubahan
tingkah laku berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan. Gedler dalam Djafar, 2001:82) mengemukakan
bahwa “ belajar adalah proses yang memperoleh (berbagai percakapan, keterampilan dan
sikap”. Selanjutnya Slameto (2003: 2)
juga mengatakan bahwa “ Belajar adalah
proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah
laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi
dengan lingkungan”.
Indikator yang
menyatakan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar menurut Diedrich yang
dikutip Sardiman (2001:100) mengemukakan aktivitas belajar siswa yang secara
garis besar dapat dikelompokan atas 8 kelompok:
1.
Visual
activities
seperti membaca, memperhatikan gambar, demonstrasi, dan mengamati percobaan
2.
Oral activities seperti
menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat,
mengadakan wawancara, diskusi dan intrupsi.
3.
Listening activities seperti
mendengarkan uraian, mendengarkan percakapan, mendengarkan diskusi dan
mendengarkan pidato.
4.
Writing activities seperti menulis, membuat laporan,
mengisi angket dan menyalin.
5.
Drawing activities seperti menggambar, membuat peta,
membuat grafik dan diagram.
6.
Motorik activities seperti melakukan percobaan,
membuat kontruksi model dan melakukan demonstrasi.
7.
Mental
activities
seperti menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisa melihat hubungan
dan mengambil keputusan.
8.
Emotional
activities
seperti menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani,
tegang dan gugup.
Dari
delapan kelompok aktivitas belajar di atas penulis hanya mengambil empat
kelompok aktivitas dalam penelitian yaitu Oral
activities, Listening activities, Writing activities, Mental activities,
emotional activities. Dari uraian dapat disimpulkan bahwa dalam proses
pembelajaran aktivitas teasebut harus saling melengkapi dan mendukung. Dalam pembelajaran matematika aktivitas
sangat membantu memahami konsep secara menyeluruh. Jadi guru tidak hanya mengajar tapi juga
memberikan bimbingan pada siswa dalam menerima pelajaran. Selain itu guru bertanggung jawab untuk
menciptakan proses belajar yang dapat menimbulkan semangat dan motivasi siswa
dalam memahami pelajaran yang diberikan.
Pada
saat belajar matematika siswa akan menemukan beberapa fakta, keterampilan.
Konsep dan atura tertentu. Untuk dapat
berinteraksi dengan keadaan tersebut siswa harus memiliki kemampuan
menyelidiki, memcahkan masalah, belajar mandiri, dan tahu bagaimana belajar
yang tepat. Hal ini menuntut siswa
belajar secara aktif dipengaruhi usaha guru dalam pembelajaran siswa. Guru berperan sebagai fasilisator dan
memberikan kesempatan pada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri.
8.
Tinjauan tentang Hasil Belajar
Hasil
belajar merupakan akibat dari proses belajar. Belajar merupakan proses yang
ditandai oleh adanya perubahan pada diri seseorang. Antara proses belajar
dengan perubahan adalah dua gejala yang saling
berkaitan yakni belajar sebagai proses dan perubahan sebagai bukti dari
hasil yang diproses.
Prestasi
belajar siswa dapat dilihat melalui hasil belajar. Oemar (2007: 159) mengatakan
bahwa “hasil belajar menunjukkan pada prestasi belajar, sedangkan prestasi
belajar itu merupakan indikator adanya dan derajat perubahan tingkah laku
siswa”. Untuk mengukur hasil belajar siswa diadakan tes hasil belajar di mana
dalam tes hasil belajar ini siswa dapat dituntut untuk menunjukkan
prestasi-prestasi tertentu sesuai dengan pembelajaran. Ukuran keberhasilan
siswa dalam belajar dinyatakan dengan angka atau huruf.
Selanjutnya
Bloom dalam Suharsimi (2008 :117) secara garis besar membagi hasil belajar atas tiga kategori yaitu:
a. Ranah kognitif, berkenaan dengan hasil
belajar intelektual.
b.
Ranah
afektif, berkenaan dengan sikap.
c.
Ranah
psikomotorik, berkenaan dengan keterampilan dan kemampuan bertindak.
Beberapa
fungsi hasil belajar:
a. Hasil
belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah
dikuasai oleh siswa.
b.
Hasil belajar sebagai lambang pemuas
hasrat ingin tahu.
c.
Hasil belajar sebagai bahan informasi
dalam inovasi pendidikan.
Hasil
belajar matematika yang dimaksud disini adalah hasil belajar yang diperoleh
siswa setelah mengalami proses pembelajaran dengan model pembelajaran
kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama) . Hasil belajar yang diteliti pada penelitian ini
adalah aspek kognitif.
B.
Kerangka Konseptual
Model pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama) merupakan suatu
model pembelajaran yang menuntut aktifitas siswa dalam membaca dan
mendiskusikan materi melalui diskusi kelompok. Dengan membaca
dapat memahami bahan-bahan pokok yang penting, dengan membaca itulah siswa bisa
menilai kemampuannnya dalam memahami pelajaran sehingga dengan rasa
keingintahuannya tentang materi yang tidak dimengerti akan memunculkan
keinginan siswa untuk berdiskusi dengan kelompok dan keinginan untuk bertanya.
Guru juga harus merancang kegiatan pembelajaran yang memungkinkan siswa
melakukan kegiatan diskusi sesama mereka di dalam kelompok. Selain itu, kerja
sama antar siswa memiliki peran penting dalam pembelajaran yaitu untuk
meningkatkan pengetahuan.
Dengan
demikian pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama)
akan memotivasi siswa untuk lebih memahami
materi dalam pembelajaran karena ada kemungkinan salah satu anggota kelompok
akan mendapatkan pertanyaan yang diberikan oleh guru atau pun dari anggota
kelompok lain. Hal ini akan
membuat siswa lebih giat memahami materi dan bukan hanya sekedar mengandalkan
teman mereka yang pintar dan pembelajaran akan terasa lebih bermakna bagi
siswa. Dengan demikian diharapkan hasil belajar matematika siswa meningkat.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis
penelitian ini adalah penelitian eksperimen. M. Nazir (2003: 63) mengemukakan
bahwa ”penelitian eksperimen adalah penelitian yang dilakukan dengan mengadakan
manipulasi terhadap objek penelitian serta adanya kontrol”. Sudjana (2005: 19)
mengemukakan bahwa “Eksperimen merupakan metode penelitian yang mengungkapkan
hubungan antara dua variabel atau lebih mencari pengaruh suatu variabel
terhadap variabel lainnya”.
Berdasarkan
jenis penelitian di atas maka penelitian ini dilakukan terhadap dua kelas yaitu
kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen merupakan kelas yang
pembelajarannya menggunakan Model pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama) dan kelas
kontrol adalah kelas yang pembelajarannya menggunakan pembelajaran biasa.
Adapun model rancangan penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini adalah ”randomized
control group only design” Suryabrata (2006:104). Rancangan penelitian
tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Rancangan Penelitian
|
Kelas sample
|
Perlakuan
|
Tes
|
|
Eksperimen
|
X
|
T
|
|
Kontrol
|
-
|
T
|
Dengan:
X =
Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Tipe Co-op Co-op (kerja sama)
-
= Tidak ada perlakuan
T = Tes
akhir pada kelas sampel
B. Populasi dan Sampel
1) Populasi
Populasi adalah keseluruhan dari
objek penelitian. Menurut Sudjana (2005: 6) “Populasi adalah seluruh sumber
data yang memungkinkan memberi informasi yang berguna bagi masalah pendidikan”.
Sebelum dilakukan penelitian, maka
terlebih dahulu ditentukan populasi penelitian. Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh siswa.
2) Sampel
Sampel
adalah bagian dari populasi yang mana harus representatif. Artinya, segala
karakteristik populasi tercermin dalam sampel yang diambil. Sudjana (2005: 6)
menyatakan bahwa sampel penelitian adalah sebagian dari populasi yang memiliki
sifat dan karakter yang sama sehingga betul-betul mewakili populasinya.
C. Variabel dan Data
1. Variabel
Variabel merupakan sesuatu yang
menjadi objek penelitian, maka dalam penelitian ini ada variabel yang menjadi
perhatian utama yaitu variabel bebas dan variabel terikat.
a.
Variabel bebas
Variabel bebas dalam penelitian adalah perlakuan yang
diberikan pada sampel penelitian yaitu pembelajaran dengan model pembelajaran
kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama) dan pembelajaran biasa
b.
Variabel terikat
Variabel terikat pada penelitian adalah hasil belajar
matematika siswa yang diperoleh setelah perlakuan diberikan.
2. Data
a.
Jenis data
1) Data primer yaitu data tentang aktivitas dan hasil belajar matematika siswa yang diperoleh
setelah mengadakan eksperimen.
b.
Data sekunder yaitu nilai ujian
mid semester matematika siswa
c.
Sumber data
1)
Sumber data primer berupa hasil
tes bersumber dari sampel setelah proses pembelajaran.
2)
Data
sekunder bersumber dari wakil kurikulum
D. Prosedur
Penelitian
Untuk mengumpulkan data-data hasil
penelitian dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1.
Tahapan Persiapan
a.
Menetapkan jadwal penelitian
b.
Mempersiapkan
materi yang diajarkan.
c.
Mempersiapkan rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP) dan prosedur
untuk model pembelajaran kooperatif tipe Co-op
Co-op (kerja sama).
d.
Menyiapkan LKS yang akan digunakan dalam pembelajaran pada kelas
eksperimen yang diberi model pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama) .
e.
Membuat kisi-kisi tes hasil belajar.
f.
Mempersiapkan instrumen penelitian
berupa tes.
g.
Menentukan
kelompok belajar siswa pada kelas eksperimen dengan jumlah anggota 4-5 orang
siswa yang berbeda kemampuan akademisnya
1.
Tahapan
pelaksanaan
a. Pelaksanaan
proses pembelajaran pada kelas eksperimen
Langkah-langkah yang dilakukan adalah
sebagai berikut:
1)
Pendahuluan
(
a)
Guru
membuka pelajaran dengan mengingatkan kembali pelajaran sebelumnya dan juga
mengecek kehadiran siswa.
b)
Guru
menyampaikan tentang tujuan dari pembelajaran.
c)
Guru
menjelaskan mengenai pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama), serta aturan yang harus ditaati selama
proses belajar mengajar berlangsung.
2)
Kegiatan
Inti
a)
Guru
membagi siswa dalam beberapa kolompok. Jumlah siswa dalam kelompok 4 sampai 5
orang siswa.
b)
Masing-masing
kelompok memilih topik yang telah disediakan oleh guru.
c)
Setelah
topik dipilih oleh kelompok, masing-masing ketua kelompok membagi topik tadi
menjadi bagian-bagian kecil untuk di bagikan kepada masing-masing anggota
kelompoknya.
d)
Guru
meminta masing-masing anggota kelompok mempelajari topik yang telah dibagikan
oleh ketua kelompoknya secara individual dan bertanggung jawab atas topik yang
telah diberikan.
e)
Setelah menyelesaikan kerja individualnya,
masing-masing anggota kelompok tadi mempresentasikan dan berdiskusi dengan
kelompok kecil mereka masing-masing dan dilakukan dengan cara yang dapat
membuat semua satu kelompok memperoleh semua pengetahuan yang telah didapat
oleh anggota kelompoknya tadi.
f)
Masing-masing
anggota kelompok memadukan hasil diskusi dan presentasi yang telah dilakukan di
dalam kelompok.
g)
Masing-masing
kelompok mempresentasikan hasil diskusi ke depan kelas. Dan kelompok tersebut
memegang kendali kelas,
h)
Guru
memantau, mengkoordinir dan menyempurnakan jawaban siswa atau menjawab
pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh siswa.
3)
Penutup
a)
Guru
mengarahkan dan membantu siswa dalam membuat rangkuman materi pelajaran yang
baru dipelajari.
b)
Menjelang
pelajaran berakhir guru memberikan PR untuk dikumpul pada pertemuan berikutnya.
b.
Pelaksanaan proses pembelajaran pada
kelas kontrol
1)
Pendahuluan
Guru
membuka pelajaran dengan mengingatkan kembali pelajaran sebelumnya, mengecek kehadiran siswa, dan
menyampaikan tujuan pembelajaran dan menghubungkan materi pelajaran yang akan
dipelajari dengan pengetahuan atau pengalaman yang dimiliki siswa.
2)
Kegiatan Inti
a) Guru
menyajikan materi pelajaran dengan menggunakan metode ekspositori dan
memberikan beberapa contoh soal.
b) Siswa
diberi kesempatan bertanya mengenai materi yang diberikan guru.
c) Siswa
mencatat penjelasan guru yang ada pada papan tulis.
d) Guru
memberikan soal latihan kepada siswa dan siswa mengerjakan latihan tersebut
secara individu.
e) Setelah
siswa selesai mengerjakan soal latihan, guru memberikan kesempatan kepada siswa
untuk menyelesaikan soal latihan ke depan
f) Guru
menjelaskan soal-soal yang belum terbahas oleh siswa.
3)
Penutup
Guru membimbing siswa
untuk membuat kesimpulan dari materi yang dipelajari, selanjutnya siswa diberi
soal-soal sebagai pekerjaan rumah (PR) dan memberikan kuis untuk melihat
pemahaman siswa terhadap pelajaran.
E.
Instrumen Penelitian
Untuk
memperoleh data tentang hasil belajar matematika siswa, penulis menggunakan instrumen/alat
pengumpul data berbentuk tes hasil belajar. Langkah-langkah yang penulis
lakukan adalah:
1.
Lembar
observasi
Lembar
observasi digunakan untuk mengetahui perkembangan aktivitas siswa selama proses
pembelajaran model pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama) dengan menerapkan Penyusunan
lembar observasi mengikuti tahap-tahap sebagai berikut:
a)
Menentukan komponen-komponen
aktivitas yang akan diamati. Aktivitas
yang dimaksud dalam penelitian ini dapat dilihat dari table berikut:
Kisi-kisi
Lembar Observasi Aktivitas Belajar Siswa
|
Jenis Aktivitas
|
Aktivitas yang Diamati
|
||
|
Oral
Activities
|
a.
Mengajukan pertanyaan yang
berhubungan dengan materi pelajaran yang sedang berlangsung.
b.
Mendiskusikan LKS dengan
siswa dalam kelompoknya.
c.
Mengemukakan pendapat dalam
membuat kesimpulan.
|
||
|
Listening activities
|
d.
Siswa berkomunikasi dengan siswa lain dalam
kelompoknya.
|
||
|
|
||
Mental
Activities
|
|
||
|
Emotional
activities
|
|
b)
Merancang lembar observasi.
Lembar
observasi akan diisi pada setiap pertemuan oleh dua orang observer. Dari lembar
observasi ini akan dilihat peningkatan atau penurunan aktivitas belajar
matematika siswa selama penerapan strategi model pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama).
2.
Menyusun
tes
Tes yang akan
diberikan berbentuk adalah tes yang tes uraian. Langkah-langkah yang dilakukan dalam
menyusun tes adalah sebagai berikut:
a. Menentukan tujuan mengadakan tes yaitu
mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran dan melihat
apakah strategi yang digunakan berhasil diterapkan.
b. Membuat batasan terhadap materi pelajaran yang
akan diuji.
c. Membuat kisi-kisi tes hasil belajar
matematika.
d.
Menyusun
butir-butir tes uji coba.
3. Validitas
Tes
Suatu tes
dikatakan valid apabila tes tersebut dapat mengukur apa yang seharusnya diukur.
Suharsimi (2008: 64) menyatakan bahwa “Sebuah tes dikatakan valid apabila tes
tersebut dapat mengukur apa yang hendak diukur”. Validitas yang digunakan
adalah validitas isi yang dikemukakan Suharsimi (2008: 67) bahwa:
Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi
apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi
pelajaran yang diberikan. Oleh karena materi yang diajarkan tertera dalam
kurikulum maka validitas ini sering disebut validitas kurikuler.
Berdasarkan
kutipan di atas, penulis menyusun kisi-kisi tes berdasarkan silabus yang telah
dibuat guru.
4. Uji
Coba Tes
Sebelum tes diberikan kepada kelas
sampel, tes diujicobakan dulu pada sekolah yang KKM-nya hampir sama dengan
tempat penelitian.
Adapun tujuan uji coba tes
menurut Sutrisno (1997) adalah:
a.
Memperbaiki pertanyaan yang kurang
jelas maksudnya.
b.
Memperbaiki
pertanyaan-pertanyaan yang bisa menimbulkan jawaban-jawaban yang dangkal.
c.
Memperbaiki kata-kata yang
terlalu asing, akademik atau kata yang menimbulkan kecurigaan.
d.
Menambahkan item yang sangat
perlu atau meniadakan item yang ternyata tidak relevan dengan tujuan
penelitian.
5.
Analisis Item
Setelah uji coba dilakukan maka kegiatan
selanjutnya adalah melakukan analisis butir soal, untuk melihat keberadaan
soal-soal yang disusun baik atau tidak. Suharsimi (2008: 207) mengemukakan
bahwa:
Tujuan analisis butir soal yaitu untuk mengadakan identifikasi
soal-soal yang baik, kurang baik, dan soal yang jelek. Dengan analisa soal dapat diperoleh informasi
tentang kejelekan sebuah soal dan “petunujuk” untuk mengadakan perbaikan.
Komponen yang
perlu diperhatikan dalam melakukan analisa butir item adalah tingkat kesukaran,
daya pembeda, serta reliabilitas tes.
a. Tingkat Kesukaran Butir
Soal
Untuk mengetahui tingkat kesukaran
soal yang berbentuk uraian
digunakan rumus yang dikemukakan
oleh Depdiknas (2001: 26-27) yaitu:
Dengan kriteria sebagai berikut:
Tabel : Kriteria tingkat kesukaran
soal
|
Indeks tingkat kesukaran
|
Kriteria
|
|
0,00 - 0,30
|
Soal tergolong sukar
|
|
0,31 - 0,70
|
Soal tergolong sedang
|
|
0,71 - 1,00
|
Soal tergolong mudah
|
b.
Indeks Daya Pembeda Soal
Daya pembeda soal
adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai
(menguasai materi yang ditanyakan), dan siswa kurang pandai (belum menguasai
materi yang ditanyakan). Untuk mencari indeks daya pembeda ini biasanya juga
dinyatakan dalam bentuk proporsi di mana semakin tinggi indeks daya pembeda
soal berarti semakin mampu soal bersangkutan membedakan siswa yang pandai
dengan yang kurang pandai.
Untuk mengetahui daya pembeda soal
bentuk essay digunakan rumus yang dikemukakan oleh Depdiknas (2001: 28) yaitu:
Menurut Depdiknas
(2001: 28) bahwa klasifikasi daya pembeda soal adalah sebagai berikut:
Kriteria indeks daya pembeda
|
Indeks Daya Pembeda
|
Kriteria
|
|
0,40-1,00
|
Butir soal diterima/baik
|
|
0,30-0,39
|
Butir soal diterima/diperbaiki
|
|
0,20-0,29
|
Butir soal diperbaiki
|
|
0,00-0,19
|
Butir soal tidak dipakai
|
Berberdasarkan kriteria tingkat kesukaran soal dan kriteria daya pembeda
soal maka kriteria soal adalah sebagai berikut sesuai dengan tabel di bawah
ini:
Kriteria Gabungan TK dengan DP
|
Kriteria Tingkat
Kesukaran Soal (TK)
|
Kriteria Daya
Pembeda Soal (DP)
|
Keterangan
|
|
0,30
TK
0,70
|
0,40
DP
1,00
|
Soal Dipakai
|
|
0,30
TK
0,70
0,15
TK
0,29 atau
0,71
TK
0,85
|
0,20
DP
0,29
0,30
DP
1,00
|
Soal diperbaiki
|
|
0,00-1,00
|
< 0,20
|
Soal dibuang
|
c. Reliabilitas
Reliabilitas
tes adalah suatu ukuran apakah tes tersebut dapat dipercaya. Sudjana (2005: 120) mengatakan bahwa “Reliabilitas alat ukur adalah
ketepatan alat tersebut dalam mengukur apa yang diukurnya. Artinya, kapan pun
alat ukur tersebut digunakan akan memberikan hasil ukur yang sama”.
Untuk menentukan reliabilitas tes digunakan
rumus yang dikemukakan oleh Suharsimi (2008: 109) yaitu:
Dimana:
= reliabilitas yang dicari
n = banyak soal
=
jumlah varians skor tiap-tiap item
=
varians total
Tabel : Kriteria
Reliabilitas
|
Reliabilitas
|
Kriteria
|
|
0,80 <
|
korelasi sangat tinggi
|
|
0,60 <
0,80
|
korelasi tinggi
|
|
0,40 <
0,60
|
korelasi sedang
|
|
0,20 <
0,40
|
korelasi rendah
|
|
0,00 <
0,20
|
korelasi sangat rendah
|
6.
Pelaksanaan Tes Akhir
Setelah
melaksanakan proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe
Co-op Co-op (kerja sama)
pada kelas eksperimen dan pembelajaran biasa pada
kelas kontrol, maka diadakan tes akhir. Tes akhir ini diberikan kepada kedua
kelompok yaitu, kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
F. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang penulis
gunakan adalah analisis perbedaan dengan menggunakan rumus t-test. Dengan analisis data ini penulis melakukan
langkah-langkah sebagai berikut:
1.
Uji Normalitas
Melakukan
uji normalitas terhadap masing-masing kelompok data dengan menggunakan uji
Liliefors. Dalam uji normalitas akan diuji hipotesis bahwa data hasil belajar
matematika siswa kedua kelas sampel berdistribusi normal. Untuk pengujian
hipotesis ini Sudjana (2005: 466-467) mengemukakan langkah-langkah uji
Liliefors sebagai berikut:
a. Data
diperoleh
dan disusun dari data yang terkecil sampai yang terbesar.
b. Data
dijadikan
bilangan baku
dengan menggunakan rumus:
Dimana:
s = Simpangan baku
= Skor
rata-rata
c. Dengan menggunakan daftar distribusi
normal baku dihitung peluang
d. Menghitung jumlah proporsi skor baku yang
lebih kecil atau sama
yang dinyatakan dengan S(
) dengan
menggunakan rumus:
e.
Menghitung selisih antara F(
) dengan S(
) kemudian tentukan harga mutlaknya.
f. Ambil harga mutlak yang terbesar dari
harga mutlak selisih itu diberi simbol
g.
Kemudian
bandingkan
dengan nilai kritis yang diperoleh dari daftar
nilai kritis untuk uji Liliefors pada taraf
.
Kriterianya adalah terima H0 bahwa data hasil belajar berdistribusi
normal jika
.
2.
Uji Homogenitas Variansi
Uji homogenitas variansi bertujuan
untuk melihat data hasil belajar kedua kelas sampel mempunyai variansi yang
homogen atau tidak. Untuk mengujinya dilakukan uji F. Dalam hal ini akan diuji
dimana
dan
adalah simpangan baku dari masing-masing
kelompok.
Rumus yang digunakan untuk menguji
hipotesis ini menurut Sudjana (2005: 249) adalah:
Dengan:
= Variansi
terbesar hasil belajar kelompok sampel
= Variansi
terendah hasil belajar kelompok sampel
Kriteria pengujian adalah terima hipotesis H0
jika
dimana dalam kondisi lain H0 di tolak.
3.
Uji Perbedaan Rata-rata
Untuk menentukan
apakah terdapat perbedaan hasil belajar siswa dari kedua kelompok sampel
tersebut, dilakukan uji perbedaan rata-rata. Pasangan hipotesis yang akan diuji
dalam penelitian ini adalah:
: Hasil
belajar matematika siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama) tidak lebih baik atau sama dengan hasil
belajar matematika siswa yang pembelajarannya menggunkan pembelajaran biasa
:
Hasil belajar matematika siswa yang pembelajarannya menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama) lebih baik dari hasil belajar matematika siswa
yang pembelajarannya menggunkan pembelajaran biasa
Jika data
hasil belajar kedua kelas sampel berdistribusi normal dan mempunyai variansi
homogen, maka uji statistik yang digunakan menurut Sudjana (2005: 239) adalah:
dengan
Dimana:
= Nilai
rata-rata kelompok eksperimen
= Nilai
rata-rata kelompok kontrol
= Jumlah
siswa kelompok eksperimen
= Jumlah
siswa kelompok kontrol
= Variansi
hasil belajar kelas eksperimen
= Variansi
hasil belajar kelas kontrol
Kriteria:
Terima H0 jika
atau
, dengan
selain itu H0 ditolak.
Apabila data hasil belajar kedua kelas sampel berdistribusi normal tetapi
mempunyai variansi yang tidak homogen, maka uji statistik yang digunakan adalah
:
Kriteria
pengujian menurut Sudjana (2005:243) adalah:
Tolak
jika
dan terima
jika
Dengan
:
DAFTAR
PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2008. Dasar-dasar
Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Asma, Nur. 2008. Model Pembelajaran Kooperatif. Padang: UNP Press.
Depdiknas. 2001. Penyusunan Butir
Soal dan Instrumen Penilaian. Jakarta: Depdiknas.
Djafar, Tengku Zahara. 2001. Kontribusi
Strategi Pembelajaran Terhadap Hasil Belajar. Padang: FIP UNP.
Febrika, Melzi. 2009. Perbandingan Hasil
Belajar Matematika Siswa yang Menggunakan LKS
Dengan yang Tidak pada Pembelajaran Kooperatif di Kelas VII SMPN 26 Padang. Padang: Universitas Bung
Hatta.
Fitri, Husnul. 2007. Studi tentang
penerapan metode belajar aktif tipe berbagi pengetahuan secara aktif pada siswa kelas X Tilatang Kamang.
Padang.
Hamalik, Oemar. 2007. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi
Aksara.
Hadi, Sutrisno. 1997. Cara Menghitung
Validitas, Reliabilitas dan Analisa Item dan Teknik- teknik Korelasi. Jakarta: Psikologi UGM.
Ibrahim, Muslimin. 2000. Pembelajaran
Kooperatif. Surabaya: university prees.
Lie, Anita. 2002.
Cooperatif Learning. Jakarta: Grasindo.
Muliyardi. 2003. Strategi
Pembelajaran Matematika. Padang: MIPA UNP.
Nazir, M. 2003. Metodologi
Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Sardiman, A.M. 2006. Interaksi dan motivasi belajar mengajar. Jakarta:
Grafindo.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor
yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rhineka Cipta.
Slavin,
Robert. E. 2010. Cooperatif
Learning ( Teori Riset dan Praktik ).
Bandung: Nusa Media.
Sudjana. 2005. Metoda Statistika. Bandung:
Transito.
Suhendra, Anton. 2010. Penerapan
Strategi Active Learning Tipe Learning Starts With a Question Dalam
Pembelajaran Matematika Siswa Kelas X MAN Koto Baru Padang Panjang.
Padang.
Suryabrata, Sumadi. 2004. Metodologi
Penelitian. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada: PT Raja Gravindo Persada.
Tim FKIP. 1993. Pedoman Penulisan Skripsi. Padang: Universitas Bung Hatta.
CERITA KISAH SUKSES SAYA SAAT PROSES PENGURUSAN DANA BANTUAN DARI KEMENDIKBUD PUSAT JAKARTA
BalasHapusAssalamualaikum sebelum'nya perkenal'kan nama saya drs manire kepala sekolah SD Nrgeri 30 Ambon NPSN 601002080 alamat jl sultan babullah kel.silale kec. Nusaniwe kota ambon prov.Maluku, mohon maaf sebelum'nya saya ingin berbagi cerita kepada jajaran kepala sekolah yang lain mengenai perjuangan pembangunan sekolah saya, alhamdulillah sekolah saya sekarang sudah sementara renovasi, pembangunan dan melengkapi isi ruang perpustakaan berkat dana bantuan dari pusat, mulah'nya saya sangat sedih melihat kondisi sekolah saya dan saya pun beberapa kali mengirim berkas proposal ke pemerintah setempat namun tidak ada sama sekali respon dari pemerintah setempat, tapi saya tidak pernah menyerah dalam menghadapi masalah ini dan setiap ibadah aku selalu memohon doa dan petunjuk, alhamdulillah suatu hari itu saya ke dinas pendidikan provensi untuk meminta perhatian kepada kepala dinas, namun kadis prov tidak ada respon juga, alhamdulillah ada salah satu krabat saya yang kebetulan dinas di depdiknas ambon maluku, krabat saya memberikan arahan untuk melapor'kan hal ini ke pusat mendiknas jakarta dan beliau pun juga memberikan nomor ponsel/hp= 082312345305 kepala biro umum bpk DR.SUTANTO S.H.,M. A. beliau menjabat di kemendiknas pusat jakarta, setelah satu minggu kemudian saya memberikan diri menghubungi beliau dan meminta bantuan dalam masalah sekolah saya dan waktu itu saya sempat curhat masalah kondisi sekolah saya dan alhamdulillah beliau ada respon memberikan arahan untuk mempersiapan proposal untuk di kirim ke pusat, alhamdulillah setelah proposal saya tiba di jakarta beliau menghubungi saya untuk menutupi segera pos pos adimistrasi pengurusan berkas'nya, setelah saya ikuti arahan beliau satu minggu kemudian saya mendapat tlp dari beliau dan beliau menyampai'kan bahwa dana'nya sudah masuk ke rekening sekolah, waktu itu saya langsun ke bank BPD kota ambon untuk cek rekening sekolah dan setelah saya serah'kan buku rekening tabungan kepada teller bank dan teller bank menyampaikan dana sudah masuk senilai 250.000.000,00 alhamdulillah saat itu saya tidak sadar'kan diri sujud di depan teller bank, alhamdulillah kini sekolah saya sudah sementara proses pembangunan berkat bantuan bpk DR.SUTANTO S.H.,M.A. beliau selaku kepala biro umum di kemendiknas pusat jakarta, terima kasih kepada bpk dr sutanto moga sukses selalu dan di beri umur panjang amin.