Senin, 14 Mei 2012

Metodologi Penelitian


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Matematika merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang mempunyai peranan penting dalam dunia pendidikan. Pembelajaran matematika dapat membuat siswa mampu memahami konsep matematika.  Dapat menjelaskan keterkaitan antar konsep, mengembangkan kemampuan memecahkan masalah, mengkomunisasikan gagasan sekaligus memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan
Mengingat pentingnya matematika dalam segala bidang maka peningkatan kualitas atau mutu pendidikan matematika harus terus dibenahi. Pemerintah telah melakukan berbagai usaha untuk meningkatkan kualitas mutu atau sistem pengajaran matematika. Diantaranya meningkatkan kualitas guru matematika melalui penataran-penataran, melengkapi sarana dan prasarana pendidikan serta penyempurnaan kurikulum.
Berdasarkan pengalaman belajar yang penulis rasakan yaitu cenderung berlangsung satu arah, dimana dari guru ke siswa. Guru menjelaskan materi, memberikan beberapa contoh soal, guru memberikan kesempatan bertanya, lalu siswa mencatat yang dituliskan guru di papan tulis dan dilanjutkan dengan mengerjakan beberapa soal latihan. Guru masih memandang belajar sebagai perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah pemindahan pengetahuan ke siswa.
Dalam proses pembelajaran kurang terjadi komunikasi dua arah antara guru dan siswa, karena kurangnya respon siswa terhadap pertanyaan yang diberikan guru dan juga siswa kurang termotivasi untuk bertanya. Sehingga aktivitas siswa hanya mencatat dan siswa cenderung pasif dalam proses pembelajaran dan yang lebih ironis sekali siswa kurang tertarik dengan materi pelajaran yang disajikan guru. Hal ini diperlihatkan melalui tingkah laku seperti mengantuk, berbicara dengan teman di sampingnya, dan permisi keluar masuk kelas serta hasil belajar matematika siswa rendah.
Untuk mengatasi hal tersebut, perlu dilakukan metode-metode pembelajaran yang dapat meningkatkan minat belajar siswa, seperti pembelajaran membuat kelompok belajar atau melibatkan siswa dengan diskusi-diskusi kelompok. Pembelajaran kooperatif dalam matematika akan dapat membantu siswa dalam mengembangkan ide, gagasan atau pendapat, serta dapat meningkatkan motivasi belajar. Dalam pembelajaran kooperatif banyak yang dapat dilakukan dalam diskusi, salah satunya model Co-op Co-op (kerja sama).
Pembelajaran kooperatif model Co-op Co-op (kerja sama) ini mungkin dapat melihat pemahaman siswa secara individu melalui diskusi kelompok dan diskusi kelas, dapat mengembangkan potensi yang dimilki siswa, dapat melatih  berinteraksi dan berkomunikasi, dan dapat menumbuhkan semangat kompetisi dan saling menghargai pendapat diantara anggota kelompok.
Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe Co-op Co-op (kerja sama) Pada Pembelajaran Matematika

B.   Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat disimpulkan identifikasi masalah sebagai berikut :
1.    Pembelajaran masih ada yang berpusat pada guru
2.    Motivasi belajar matematika siswa masih rendah
3.    Aktivitas dan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran masih kurang
4.    Hasil belajar matematika siswa masih rendah

C.   Pembatasan Masalah
     Agar penelitian ini terarah dan mengingat keterbatasan penulis, maka perlu dilakukan pembatasan masalah sebagai berikut:
a.         Aktivitas belajar siswa yang pembelajarannya menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama) dalam pembelajaran matematika.
b.         Hasil Belajar siswa yang pembelajarannya menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama) dalam pembelajaran matematika siswa.


D.   Perumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penilitian ini adalah ”Apakah aktivitas siswa dan hasil belajar matematika siswa yang pembelajarannya menggunakan pembelajaran kooperatif model Co-op Co-op (kerja sama) lebih baik dari aktivitas dan  hasil belajar matematika siswa yang pembelajarannya menggunakan pembelajaran biasa.

E.   Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah aktivitas dan  hasil belajar matematika siswa yang pembelajarannya menggunakan pembelajaran kooperatif model Co-op Co-op (kerja sama) lebih baik dari hasil belajar matematika siswa yang pembelajarannya menggunakan pembelajaran biasa.

F.  Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah dan kajian teori yang telah penulis kemukakan, maka yang menjadi hipotesis dan pertanyaan penelitian ini adalah:
1.      Aktivitas belajar siswa meningkat dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama).
2.      Hasil belajar matematika siswa yang menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama) lebih baik dari pada siswa yang belajar dengan menggunakan pembelajaran biasa pada siswa.

G.   Kegunaan Penelitian
      Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan untuk :
1.      Tambahan pengetahuan bagi penulis dalam usaha meningkatkan kemampuan diri menjadi tenaga pendidik yang professional.
2.      Informasi bagi guru bidang studi matematika untuk meningkatkan hasil belajar matematika.

H.   Asumsi
Landasan pemikiran yang bisa dijadikan dijadikan sebagai asumsi dalam penelitian ini adalah:
1.      Setiap siswa mempunyai latar belakang pengetahuan dan kesempatan yang sama dalam proses belajar mengajar matematika.
2.      Setiap siswa kelas eksperimen sudah mempelajari paket pengajaran yang diberikan sebelum jam pelajaran tatap muka.



















BAB II
KERANGKA TEORITIS

A.     Kerangka Teoritis
1.     Tinjauan tentang Pembelajaran Matematika
Proses pembelajaran pada hakekatnya adalah proses komunikasi antara guru dengan siswa sehingga terjadi perubahan tingkah laku yang lebih baik. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut perubahan yang bersifat pengetahuan, keterampilan, maupun yang menyangkut nilai sikap. Menurut Sardiman (2006: 158) ”pembelajaran adalah proses yang diselenggarakan oleh guru untuk siswa dalam belajar, bagaimana belajar memperoleh dan memproses pengetahuan, keterampulan, dan sikap”.
Pembelajaran merupakan suatu upaya menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa dapat belajar, mengenal dan memahami materi pembelajaran dengan lebih baik. Salah satunya adalah pada pembelajaran matematika, pembelajaran matematika merupakan upaya atau usaha guru dalam mengkonstruksikan konsep-konsep matematika dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Menurut Nikson dalam Muliyardi (2003: 3) mengatakan bahwa:
Pembelajaran matematika adalah upaya untuk membantu siswa mengkonstruksikan konsep-konsep atau prinsip-prinsip matematika dengan kemampuan sendiri melalui proses internalisasi sehingga prinsip atau konsep itu terbangun kembali
Pembelajaran matematika membutuhkan peranan aktif siswa, proses bernalar yang tinggi dalam mengaitkan simbol-simbol, dan mengaplikasikan konsep-konsep yang ada ke dalam situasi nyata. Untuk itu guru harus menumbuhkan minat dan keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika. Salah satu yang dapat dilakukan guru yaitu dengan menerapkan metode dan strategi mengajar yang tepat agar tercipta kegiatan mental yang meliputi proses aktif dari dalam diri siswa yang dilakukan untuk memperoleh pengetahuan baru dalam penyelesaian masalah matematika.
   
2.     Tinjauan tentang model pembelajaran kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang menekankan siswa untuk bekerja secara kelompok dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Cohen dalam Nur (2008:1) mendefenisikan pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
Cooperative learning will be defined as student working together in a group small enough that everyone participate on a collective task that has been clearly assign. Moreover, students are expected to carry out their task without direct and immediate supervision of the teacher.

Pembelajaran kooperatif adalah pendekatan yang mencakup kelompok kecil dari siswa yang bekerja sama sebagai suatu tim untuk memecahkan masalah. Davidson dan Kroll dalam Nur (2008:1) mendefenisikan pembelajaran kooperatif adalah kegiatan yang berlangsung di lingkungan belajar siswa dalam kelompok kecil yang saling berbagi ide-ide dan bekerja secara kolaboratif untuk memecahkan masalah-masalah yang ada dalam tugas mereka.
Berdasarkan pendapat kedua ahli ini dapat disimpulkan, pembelajaran kooperatif mengandung pengertian bahwa dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar bersama, saling menyumbang pemikiran dan bertanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar secara individu maupun kelompok. Selanjutnya Suyatno (2009:51) menjelaskan bahwa pembelajaran kooperatif menekankan belajar dalam kelompok heterogen saling membantu satu sama lain, bekerja sama menyelesaikan masalah, dan menyatukan pendapat untuk memperoleh keberhasilan yang optimal baik kelompok maupun individu.
Pembelajaran kooperatif dapat dipandang sebagai model pembelajaran yang menekankan aktifitas siswa untuk berdiskusi dalam kelompok kecil untuk menyelesaikan permasalahan dalam pembelajaran. Untuk mencapai hasil diskusi yang baik, menurut Muslimin (2002 : 6) ada unsur-unsur dasar  dalam pembelajaran kooperatif yang harus diperhatikan sebagai berikut :
a.       Siswa dalam anggotanya haruslah beranggapan bahwa mereka “sehidup sepenanggungan bersama.”
b.      Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya, seperti milik diri mereka sendiri.
c.       Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya mamiliki tujuan yang sama.
d.      Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya.
e.       Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok.
f.       Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya
g.      Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif 

Pembelajaran kooperatif bisa diibaratkan sebagai pembelajaran gotong royong demi keberhasilan bersama. Menurut Anita (2002:30) untuk mencapai hasil yang maksimal ada 5 unsur model pembelajaran gotong royong yang harus diterapkan yaitu:
a.             Saling ketergantungan positif
b.            Tanggung jawab perseorangan
c.             Tatap muka
d.            Komunikasi antar anggota
e.             Evaluasi proses kelompok

Pembelajaran kooperatif dapat dipandang sebagai model pembelajaran yang menekankan aktifitas siswa dalam kelompok kecil, di mana siswa saling membantu dan bekerja sama dalam mempelajari suatu materi pembelajaran yang diberikan oleh guru secara berkelompok. Model belajar kooperatif dirancang sedemikian rupa untuk memberikan pengalaman langsung kepada siswa untuk berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain. Lufri (2006:51) pembelajaran kooperatif bercirikan:
a.       Anak didik bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan bahan pelajaran
b.      Kelompok dibentuk dari anak didik yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah
c.       Bila mungkin anggota kelompok dari ras, budaya, jenis kelamin berbeda
d.      Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.
Jadi, pembelajaran kooperatif mendasarkan pada suatu ide bahwa siswa bekerja sama dalam belajar kelompok dan sekaligus masing-masing bertanggung jawab pada aktifitas belajar anggota kelompoknya, sehingga seluruh anggota kelompok dapat menguasai materi pelajaran dengan baik. Kegiatan siswa dalam pembelajaran kooperatif antara lain mengikuti penjelasan guru secara aktif, menyelesaikan tugas-tugas dalam kelompok, memberikan penjelasan kepada teman kelompoknya, mendorong teman kelompoknya untuk berpartisipasi secara aktif, dan berdiskusi. Agar kegiatan siswa berlangsung dengan baik dan lancar diperlukan keterampilan-keterampilan khusus, yang disebut keterampilan kooperatif. Keterampilan kooperatif dapat dibangun dengan mengembangkan komunikasi dan pembagian tugas antara anggota kelompok.

3.      Tinjauan tentang Pengelompokan dalam Pembelajaran Kooperatif
Kelompok belajar adalah kumpulan beberapa siswa yang saling bekerja sama dalam menyelesaikan suatu masalah. Kelompok belajar ini terdiri dari 4 sampai 5 orang siswa yang memiliki peranan dalam kelompoknya. Peran yang diberikan pada masing-masing siswa sebagai anggota kelompok akan menumbuhkan rasa tanggung jawab individual yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan kelompok mereka.
Pengelompokkan yang akan dilakukan pada metode ini adalah pengelompokan heterogen. Pengelompokkan heterogen dibentuk dengan memperhatikan keanekaragaman gender, kemampuan akademis, etnik dan latar belakang sosial ekonomi. Akan tetapi pada penelitian ini berdasarkan keterbatasan yang penulis miliki maka pengelompokan heterogen ini hanya dibentuk dengan memperhatikan kemampuan akademis saja. Dengan adanya perbedaan tersebut maka siswa dapat saling bekerja sama dan saling tolong menolong dalam kegiatan pembelajaran untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Siswa yang berkemampuan tinggi membantu siswa yang berkemampuan rendah. Hal ini menciptakan interaksi antar siswa dan guru berperan sebagai pembimbing yang membimbing siswa.
Pembagian anggota kelompok berdasarkan kemampuan akademis dapat dilakukaan dengan cara membagi anggota kelompok pembelajaran yang terdiri dari satu orang berkemampuan akademis tinggi, dua orang berkemampuan sedang dan yang lainnya dari kelompok yang kemampuan akademisnya kurang Anita (2002: 40)). Selanjutnya Anita (2002: 42) menambahkan bahwa terdapat tiga keuntungan dari pembentukan kelompok heterogen berdasarkan kemampuan akademis yaitu:
a.       Memberikan kesempatan untuk saling mengajar (peer tutoring) dan saling mendukung.
b.      Meningkatkan relasi dan interaksi antar ras, etnik, dan keturunan/gender.
c.       Dapat memudahkan pengelolaan kelas.

4.           Tinjauan tentang Pembelajaran Kooperatif Tipe Co-op Co-op (kerja sama)
           Model pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
           Slavin (2009:229) menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama) menempatkan tim dalam kooperasi antara satu dengan yang lainnya untuk mempelajari sebuah topik di kelas.
           Model pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama) adalah sebuah group investigation yang cukup familiar. Tipe Co-op Co-op (kerja sama) memberi kesempatan pada siswa untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil, pertama untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang diri mereka dan lingkungan sekitar, dan selanjutnya memberikan mereka kesempatan untuk saling berbagi pemahaman baru itu dengan teman-teman sekelasnya. Ada sembilan langkah spesifik yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama) berikut ini (Slavin: 2009: 229).
1)      Diskusi Kelas Terpusat pada Siswa
           Pada awal memulai unit pelajaran di kelas dimana tipe Co-op Co-op (kerja sama) digunakan, para siswa perlu didorong untuk menemukan dan mengekspresikan ketertarikan mereka sendiri terhadap subjek yang akan dicakupi. Serangkaian kegiatan membaca, menyampaikan pelajaran, atau pengalaman dapat dilakukan untuk tujuan ini. Lalu lakukan diskusi kelas yang terpusat pada siswa. Tujuan dari diskusi ini haruslah dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran unit pelajaran dengan membuka dan memancing rasa ingin tahu mereka, bukan untuk mengarahkan kepada topik khusus untuk dipelajari. Diskusi harus mengarah pada sebuah pemahaman diantara guru dan semua siswa mengenai apa yang ingin dipelajari dan dialami oleh para siswa sehubungan dengan topik yang akan dicakupi.
2)      Menyeleksi Tim Pembelajaran Siswa dan Pembentukan Tim
           Apabila para siswa belum mulai bekerja dalam tim, mereka perlu diatur kedalam tim heterogen yang terdiri dari empat sampai lima anggota. Para siswa perlu memiliki kelompok kerja dengan kemampuan yang baik dan kepercayaan yang terbangun sebelum memulai tipe Co-op Co-op (kerja sama).
3)      Seleksi Topik Tim
           Siswa memilih topik untuk tim mereka. Apabila topik tim tidak langsung diikuti dengan diskusi kelas berpusat pada siswa, guru perlu mengingatkan siswa topik mana yang paling banyak menarik perhatian seluruh kelas.
4)      Pemilihan Topik Kecil
           Begitu kelas sebagai sebuah keseluruhan membagi unit pelajaran kedalam bagian-bagian untuk menciptakan pembagian tugas diantara tim-tim yang ada di kelas, tiap tim membagi topiknya untuk membuat pembagian tugas diantara anggota tim. Tiap siswa memilih topik kecil yang mencakup aspek dari topik tim.
5)      Persiapan Topik Kecil
           Setelah para siswa membagi topik tim mereka menjadi topik-topik kecil, mereka akan bekerja secara individual. Mereka bertanggung jawab terhadap topik kecilnya masing-masing.
6)      Presentasi Topik Kecil
           Setelah para siswa menyelesaikan kerja individual, mereka mempresentasikan topik kecil mereka kepada teman satu timnya. Presentasi dan diskusi kecil di dalam tim dilakukan dengan cara yang dapat membuat semua teman satu tim memperoleh semua pengetahuan dan pengalaman yang dilakukan oleh masing-masing anggota tim.
7)      Persiapan Presentasi Tim
           Para siswa didorong untuk memadukan semua topik kecil dalam presentasi tim. Disana harus ada sintesis aktif dari topik-topik kecil tersebut supaya selama diskusi tim presentasi akan menjadi lebih dari sekadar sekumpulan presentasi topik kecil.
8)      Presentasi Tim
           Selama waktu presentasinya, tim memegang kendali kelas. Semua anggota kelas bertanggung jawab pada bagaimana waktu, ruang, dan bahan-bahan yang ada di kelas digunakan selama presentasi. Mereka sangat dianjurkan untuk menggunakan sepenuhnya fasilitas-fasilitas yang ada di kelas.
9)      Evaluasi
           Evaluasi dilakukan pada tiga tingkatan: (1) pada saat presentasi tim dievaluasi oleh kelas; (2) kontribusi individual terhadap usaha tim dievaluasi oleh teman satu tim; dan (3) pengulangan kembali materi atau presentasi topik kecil oleh tiap siswa dievaluasi oleh sesama siswa.

5.      Tinjauan tentang Pembelajaran Biasa
Pembelajaran biasa dalam penelitian ini adalah pembelajaran yang biasa dilakukan dalam pembelajaran yang selama ini, ciri-ciri pembelajaran biasa menurut Depdiknas (2001:7) sebagai berikut :
a.    Siswa menerima informasi secara pasif.
b.   Siswa belajar secara individual yang dilaksanakan berpasangan.
c.    Pembelajaran tidak memperhatikan pengalaman siswa.
d.   Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis.
e.    Hasil pembelajaran hanya diukur dengan tes.
Dari pendapat di atas terlihat bahwa pembelajaran biasa guru terlalu banyak berperan, siswa pada umumnya pasif. Siswa hanya menerima materi yang dijelaskan guru bahkan siswa sering menghafal rumus-rumus matematika kemudian dilatih untuk menerapkan dalam soal hitungan. Hal ini membuat siswa merasa bahwa matematika hanya bersifat hitungan saja tanpa tahu kaitannya dengan kehidupan sehari-hari di sekitar mereka.
Proses pembelajaran dalam hal ini guru menyampaikan materi, memberikan beberapa contoh soal, siswa lalu mencatat apa yang dijelaskan guru di papan tulis, mengerjakan soal-soal latihan, selanjutnya membahas latihan secara bersama-sama dan pada akhir pembelajaran guru memberikan beberapa soal kepada siswa sebagai pekerjaan rumah.

6.           Tinjauan tentang LKS
Selain guru dan siswa, komponen yang paling penting dalam proses pembelajaran adalah bahan ajar. Bahan ajar yang baik adalah bahan ajar yang disusun secara sistematis sehingga dapat digunakan oleh guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Matematika adalah ilmu yang terstruktur sehingga penyusunan materi bahan ajar yang sistematis akan memudahkan siswa untuk memahami konsep matematika. Bahan ajar yang akan dibahas lebih lanjut adalah Lembar Kerja Siswa (LKS), karena LKS merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk mengaktifkan siswa dalam kegiatan pembelajaran, sebagaimana yang diungkapkan oleh  Febrika (2009 : 25): LKS adalah lembar kertas yang mengandung petunjuk kerja siswa mengisikan hasil kerjanya, sehingga mendapatkan kesimpulan hail kerjanya”.

Jadi, LKS merupakan suatu unit program pembelajaran yang berisikan materi pelajaran dan disajikan dalam bentuk tugas, soal dan pertanyaan. Pertanyaan tugas serta soal-soal tersebut dibuat dan disusun sebaik-baiknya oleh guru sehingga dengan cara itu siswa dapat menemukan konsep-konsep yang terkandung dalam materi pembelajaran. Adapun tujuan dan manfaat penggunaan LKS  menurut  Irianti   (2007 : 20) adalah :
a.       Mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran.
b.      Membantu siswa dalam mengembangkan konsep.
c.       Melatih siswa untuk menemukan dan mengembangkan keterampilan  proses.
d.      Membantu guru dalam menyusun rencana pembelajaran.
e.       Sebagai pedomandan bagi guru dan siwa dalam melaksanakan proses pembelajaran.
f.       Membantu siswa memperoleh catatan tentang materi yang dipelajari.
g.      Membantu siswa untuk memperoleh informasi tentang konsep yang dipelajari.

Karena LKS memuat instruksi yang harus diikuti siswa sehingga LKS hendaknya disusun sedemikian rupa sehingga siswa dapat dengan mudah memahaminya. Langkah-langkah penyusunan LKS yang dikemukakan oleh Wijaya dalam Fitri (2007: 16) adalah sebagai berikut:
a.       Merumuskan tujuan pengajaran yang akan dicapai dengan menggunakan LKS.
b.    Penyusunan alat evaluasi yang akan digunakan untuk menguji keberhasilan siswa dalam belajar.
c.    Menyusun bahan pelajaran secara logis dan sistematis yang relevan dengan tujuan.
d.   Melukis LKS berdasarkan urutan kegiatan yang akan dilakukan murid untuk mencapai tujuan.
e.    Mencoba dan merivisi LKS yang akan dirancang.
LKS merupakan salah satu media pembelajaran yang harus diperhatikan penyusunannya. Penyusunan LKS ada hal-hal yang tidak boleh diabaikan. Menurut Soekamto dalam Suhendra (2010: 20) komponen-komponen yang perlu diperhatikan dalam penyusunan LKS yaitu:
a.    Materi dan contoh soal
     Materi harus disusun sedemikian rupa agar dapat menunjang tercapainya kompetensi dasar.
b.   Petunjuk penyelesaian
     Di dalam LKS harus ada petunjuk penyelesaian soal-soal yang ada. Petunjuk penyelesaian ini diharapkan dapat memudahkan siswa dalam menyelesaikan soal-soal yang ada dalam LKS.
c.    Soal yang akan dikerjakan
     Soal-soal latihan merupakan inti dalam LKS.
Penyusunan LKS harus sesuai dengan materi, berisi petunjuk yang mengarahkan siswa dalam menyelesaikan soal-soal yang ada di dalam LKS. Petunjuk penyelesaian tersebut berorientasi pada model pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama) yaitu siswa dituntut untuk membaca dan memahami materi melalui diskusi kelompok . Siswa harus membaca LKS dan mendiskusikan materi atau konsep yang tidak dimengerti yang ada pada LKS dalam kelompoknya. Selanjutnya soal-soal latihan yang ada dalam LKS diselesaikan secara individual oleh anggota kelompok dalam kelompoknya.  Siswa mendiskusikan hasil pekerjaannya bersama teman kelompok dengan cara saling mengoreksi dan memberi masukan, selanjutnya guru memilih salah satu kelompok untuk mempresentasikan penyelesaian soal yang dibahas.

7.           Tinjauan tentang aktivitas siswa dalam belajar
       Aktivitas  siswa sama maknanya dengan kegiatan atau perbuatan yang menghendaki gerakan fungsi otak individu yang belajar.  Aktivitas tersebut menghasilkan perubahan tingkah laku berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan.  Gedler dalam Djafar, 2001:82) mengemukakan bahwa “ belajar adalah proses yang memperoleh (berbagai percakapan, keterampilan dan sikap”.  Selanjutnya Slameto (2003: 2) juga mengatakan bahwa  “ Belajar adalah proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungan”.
                         Indikator yang menyatakan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar menurut Diedrich yang dikutip Sardiman (2001:100) mengemukakan aktivitas belajar siswa yang secara garis besar dapat dikelompokan atas 8 kelompok:
1.   Visual activities seperti membaca, memperhatikan gambar, demonstrasi, dan mengamati percobaan
2.   Oral activities seperti menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi dan intrupsi.
3.     Listening activities seperti mendengarkan uraian, mendengarkan percakapan, mendengarkan diskusi dan mendengarkan pidato.
4.    Writing  activities seperti menulis, membuat laporan, mengisi angket dan menyalin.
5.   Drawing  activities seperti menggambar, membuat peta, membuat grafik dan diagram.
6.   Motorik  activities seperti melakukan percobaan, membuat kontruksi model dan melakukan demonstrasi.
7.   Mental activities seperti menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisa melihat hubungan dan mengambil keputusan.
8.   Emotional activities seperti menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tegang dan gugup.

Dari delapan kelompok aktivitas belajar di atas penulis hanya mengambil empat kelompok aktivitas dalam penelitian yaitu Oral activities, Listening activities, Writing activities, Mental activities, emotional activities. Dari uraian dapat disimpulkan bahwa dalam proses pembelajaran aktivitas teasebut harus saling melengkapi dan mendukung.  Dalam pembelajaran matematika aktivitas sangat membantu memahami konsep secara menyeluruh.  Jadi guru tidak hanya mengajar tapi juga memberikan bimbingan pada siswa dalam menerima pelajaran.  Selain itu guru bertanggung jawab untuk menciptakan proses belajar yang dapat menimbulkan semangat dan motivasi siswa dalam memahami pelajaran yang diberikan.
Pada saat belajar matematika siswa akan menemukan beberapa fakta, keterampilan. Konsep dan atura tertentu.  Untuk dapat berinteraksi dengan keadaan tersebut siswa harus memiliki kemampuan menyelidiki, memcahkan masalah, belajar mandiri, dan tahu bagaimana belajar yang tepat.  Hal ini menuntut siswa belajar secara aktif dipengaruhi usaha guru dalam pembelajaran siswa.  Guru berperan sebagai fasilisator dan memberikan kesempatan pada siswa untuk menemukan dan  menerapkan ide mereka sendiri.

8.           Tinjauan tentang Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan akibat dari proses belajar. Belajar merupakan proses yang ditandai oleh adanya perubahan pada diri seseorang. Antara proses belajar dengan perubahan adalah dua gejala yang saling  berkaitan yakni belajar sebagai proses dan perubahan sebagai bukti dari hasil yang diproses.
Prestasi belajar siswa dapat dilihat melalui hasil belajar. Oemar (2007: 159) mengatakan bahwa “hasil belajar menunjukkan pada prestasi belajar, sedangkan prestasi belajar itu merupakan indikator adanya dan derajat perubahan tingkah laku siswa”. Untuk mengukur hasil belajar siswa diadakan tes hasil belajar di mana dalam tes hasil belajar ini siswa dapat dituntut untuk menunjukkan prestasi-prestasi tertentu sesuai dengan pembelajaran. Ukuran keberhasilan siswa dalam belajar dinyatakan dengan angka atau huruf.
Selanjutnya Bloom dalam Suharsimi (2008 :117) secara garis besar membagi hasil belajar  atas tiga kategori yaitu:
a.       Ranah kognitif, berkenaan dengan hasil belajar     intelektual.
b.        Ranah afektif, berkenaan dengan sikap.
c.         Ranah psikomotorik, berkenaan dengan keterampilan dan kemampuan bertindak.

Beberapa fungsi hasil belajar:
a.    Hasil belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai oleh siswa.
b.    Hasil belajar sebagai lambang pemuas hasrat ingin tahu.
c.    Hasil belajar sebagai bahan informasi dalam inovasi pendidikan.
Hasil belajar matematika yang dimaksud disini adalah hasil belajar yang diperoleh siswa setelah mengalami proses pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama) . Hasil belajar yang diteliti pada penelitian ini adalah aspek kognitif.

B.      Kerangka Konseptual
Model pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama)  merupakan suatu model pembelajaran yang menuntut aktifitas siswa dalam membaca dan mendiskusikan materi melalui diskusi kelompok. Dengan membaca dapat memahami bahan-bahan pokok yang penting, dengan membaca itulah siswa bisa menilai kemampuannnya dalam memahami pelajaran sehingga dengan rasa keingintahuannya tentang materi yang tidak dimengerti akan memunculkan keinginan siswa untuk berdiskusi dengan kelompok dan keinginan untuk bertanya. Guru juga harus merancang kegiatan pembelajaran yang memungkinkan siswa melakukan kegiatan diskusi sesama mereka di dalam kelompok. Selain itu, kerja sama antar siswa memiliki peran penting dalam pembelajaran yaitu untuk meningkatkan pengetahuan.
Dengan demikian pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama)  akan memotivasi siswa untuk lebih memahami materi dalam pembelajaran karena ada kemungkinan salah satu anggota kelompok akan mendapatkan pertanyaan yang diberikan oleh guru atau pun dari anggota kelompok lain. Hal ini akan membuat siswa lebih giat memahami materi dan bukan hanya sekedar mengandalkan teman mereka yang pintar dan pembelajaran akan terasa lebih bermakna bagi siswa. Dengan demikian diharapkan hasil belajar matematika siswa meningkat.





















BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.     Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen. M. Nazir (2003: 63) mengemukakan bahwa ”penelitian eksperimen adalah penelitian yang dilakukan dengan mengadakan manipulasi terhadap objek penelitian serta adanya kontrol”. Sudjana (2005: 19) mengemukakan bahwa “Eksperimen merupakan metode penelitian yang mengungkapkan hubungan antara dua variabel atau lebih mencari pengaruh suatu variabel terhadap variabel lainnya”.
Berdasarkan jenis penelitian di atas maka penelitian ini dilakukan terhadap dua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen merupakan kelas yang pembelajarannya menggunakan Model pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama)  dan kelas kontrol adalah kelas yang pembelajarannya menggunakan pembelajaran biasa.
Adapun model rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah ”randomized control group only design” Suryabrata (2006:104). Rancangan penelitian tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:




                   Rancangan Penelitian

Kelas sample
Perlakuan
Tes
Eksperimen
X
T
Kontrol
-
T

Dengan:
X  =  Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran  kooperatif  Tipe Co-op Co-op (kerja sama)
 -  =   Tidak ada perlakuan
T  =   Tes akhir pada kelas sampel

B.     Populasi dan Sampel
1)      Populasi
Populasi adalah keseluruhan dari objek penelitian. Menurut Sudjana (2005: 6) “Populasi adalah seluruh sumber data yang memungkinkan memberi informasi yang berguna bagi masalah pendidikan”.
Sebelum dilakukan penelitian, maka terlebih dahulu ditentukan populasi penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa.
2)       Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang mana harus representatif. Artinya, segala karakteristik populasi tercermin dalam sampel yang diambil. Sudjana (2005: 6) menyatakan bahwa sampel penelitian adalah sebagian dari populasi yang memiliki sifat dan karakter yang sama sehingga betul-betul mewakili populasinya.

C.    Variabel dan Data
1.  Variabel
Variabel merupakan sesuatu yang menjadi objek penelitian, maka dalam penelitian ini ada variabel yang menjadi perhatian utama yaitu variabel bebas dan variabel terikat.
a.       Variabel bebas
Variabel bebas dalam penelitian adalah perlakuan yang diberikan pada sampel penelitian yaitu pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama)  dan pembelajaran biasa
b.      Variabel terikat
Variabel terikat pada penelitian adalah hasil belajar matematika siswa yang diperoleh setelah perlakuan diberikan.
2.    Data
a.    Jenis data
1)   Data primer yaitu data tentang aktivitas dan hasil belajar matematika siswa yang diperoleh setelah mengadakan eksperimen.
b.    Data sekunder yaitu nilai ujian mid semester matematika siswa
c.    Sumber data
1)   Sumber data primer berupa hasil tes bersumber dari sampel setelah proses pembelajaran.
2)   Data sekunder bersumber dari wakil kurikulum 
D.    Prosedur Penelitian
Untuk mengumpulkan data-data hasil penelitian dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1.  Tahapan Persiapan
a.         Menetapkan jadwal penelitian
b.         Mempersiapkan materi yang diajarkan.
c.         Mempersiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan prosedur untuk model pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama).
d.         Menyiapkan LKS yang akan digunakan dalam pembelajaran pada kelas eksperimen yang diberi model pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama) .
e.         Membuat kisi-kisi tes hasil belajar.
f.          Mempersiapkan instrumen penelitian berupa tes.
g.         Menentukan kelompok belajar siswa pada kelas eksperimen dengan jumlah anggota 4-5 orang siswa yang berbeda kemampuan akademisnya

1.    Tahapan pelaksanaan
a.    Pelaksanaan proses pembelajaran pada kelas eksperimen
     Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1)      Pendahuluan (
a)      Guru membuka pelajaran dengan mengingatkan kembali pelajaran sebelumnya dan juga mengecek kehadiran siswa.
b)      Guru menyampaikan tentang tujuan dari pembelajaran.
c)      Guru menjelaskan mengenai pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama), serta aturan yang harus ditaati selama proses belajar mengajar berlangsung.
2)      Kegiatan Inti
a)      Guru membagi siswa dalam beberapa kolompok. Jumlah siswa dalam kelompok 4 sampai 5 orang siswa.
b)      Masing-masing kelompok memilih topik yang telah disediakan oleh guru.
c)      Setelah topik dipilih oleh kelompok, masing-masing ketua kelompok membagi topik tadi menjadi bagian-bagian kecil untuk di bagikan kepada masing-masing anggota kelompoknya.
d)     Guru meminta masing-masing anggota kelompok mempelajari topik yang telah dibagikan oleh ketua kelompoknya secara individual dan bertanggung jawab atas topik yang telah diberikan.
e)       Setelah menyelesaikan kerja individualnya, masing-masing anggota kelompok tadi mempresentasikan dan berdiskusi dengan kelompok kecil mereka masing-masing dan dilakukan dengan cara yang dapat membuat semua satu kelompok memperoleh semua pengetahuan yang telah didapat oleh anggota kelompoknya tadi.
f)       Masing-masing anggota kelompok memadukan hasil diskusi dan presentasi yang telah dilakukan di dalam kelompok.
g)      Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi ke depan kelas. Dan kelompok tersebut memegang kendali kelas,
h)      Guru memantau, mengkoordinir dan menyempurnakan jawaban siswa atau menjawab pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh siswa.
3)      Penutup
a)      Guru mengarahkan dan membantu siswa dalam membuat rangkuman materi pelajaran yang baru dipelajari.
b)      Menjelang pelajaran berakhir guru memberikan PR untuk dikumpul pada pertemuan berikutnya.

b.    Pelaksanaan proses pembelajaran pada kelas kontrol
1)        Pendahuluan
Guru membuka pelajaran dengan mengingatkan kembali pelajaran sebelumnya, mengecek kehadiran siswa, dan menyampaikan tujuan pembelajaran dan menghubungkan materi pelajaran yang akan dipelajari dengan pengetahuan atau pengalaman yang dimiliki siswa.
2)        Kegiatan Inti
a)   Guru menyajikan materi pelajaran dengan menggunakan metode ekspositori dan memberikan beberapa contoh soal.
b)   Siswa diberi kesempatan bertanya mengenai materi yang diberikan guru.
c)   Siswa mencatat penjelasan guru yang ada pada papan tulis.
d)  Guru memberikan soal latihan kepada siswa dan siswa mengerjakan latihan tersebut secara individu.
e)   Setelah siswa selesai mengerjakan soal latihan, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyelesaikan soal latihan ke depan
f)    Guru menjelaskan soal-soal yang belum terbahas oleh siswa.

3)        Penutup
Guru membimbing siswa untuk membuat kesimpulan dari materi yang dipelajari, selanjutnya siswa diberi soal-soal sebagai pekerjaan rumah (PR) dan memberikan kuis untuk melihat pemahaman siswa terhadap pelajaran.



E.  Instrumen Penelitian
Untuk memperoleh data tentang hasil belajar matematika siswa, penulis menggunakan instrumen/alat pengumpul data berbentuk tes hasil belajar. Langkah-langkah yang penulis lakukan adalah:
1.      Lembar observasi
Lembar observasi digunakan untuk mengetahui perkembangan aktivitas siswa selama proses pembelajaran model pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama) dengan menerapkan Penyusunan lembar observasi mengikuti tahap-tahap sebagai berikut:
a)      Menentukan komponen-komponen aktivitas yang akan diamati.  Aktivitas yang dimaksud dalam penelitian ini dapat dilihat dari table berikut:
Kisi-kisi Lembar Observasi Aktivitas Belajar Siswa

Jenis Aktivitas
Aktivitas yang Diamati



 Oral Activities
a.  Mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan materi pelajaran yang sedang berlangsung.
b. Mendiskusikan LKS dengan siswa dalam kelompoknya.
c.  Mengemukakan pendapat dalam membuat kesimpulan.

Listening activities

d. Siswa berkomunikasi dengan siswa lain dalam kelompoknya.
  e.  Mengisi atau mengerjakan LKS/latihan. 
 Writing Activities




  f. Memberikan    tanggapan    atau    ide    dari penjelasan yang berhubungan dengan materi pelajaran yang sedang dipelajari.
  g. siswa yang main-main dalam diskusi.
  h.  siswa yang tidak ikut aktif dalam diskusi.


 

 Mental Activities




  Emotional activities


b)          Merancang lembar observasi.
Lembar observasi akan diisi pada setiap pertemuan oleh dua orang observer. Dari lembar observasi ini akan dilihat peningkatan atau penurunan aktivitas belajar matematika siswa selama penerapan strategi model pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama).

2.      Menyusun tes
Tes yang akan diberikan berbentuk adalah tes yang tes uraian. Langkah-langkah yang dilakukan dalam menyusun tes adalah sebagai berikut:
a.    Menentukan tujuan mengadakan tes yaitu mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran dan melihat apakah strategi yang digunakan berhasil diterapkan.
b.    Membuat batasan terhadap materi pelajaran yang akan diuji.
c.    Membuat kisi-kisi tes hasil belajar matematika.
d.   Menyusun butir-butir tes uji coba.



3.      Validitas Tes
Suatu tes dikatakan valid apabila tes tersebut dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Suharsimi (2008: 64) menyatakan bahwa “Sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut dapat mengukur apa yang hendak diukur”. Validitas yang digunakan adalah validitas isi yang dikemukakan Suharsimi (2008: 67) bahwa:
Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan. Oleh karena materi yang diajarkan tertera dalam kurikulum maka validitas ini sering disebut validitas kurikuler.

Berdasarkan kutipan di atas, penulis menyusun kisi-kisi tes berdasarkan silabus yang telah dibuat guru.
4.      Uji Coba Tes
Sebelum tes diberikan kepada kelas sampel, tes diujicobakan dulu pada sekolah yang KKM-nya hampir sama dengan tempat penelitian.
Adapun tujuan uji coba tes menurut Sutrisno (1997) adalah:
a.    Memperbaiki pertanyaan yang kurang jelas maksudnya.
b.    Memperbaiki pertanyaan-pertanyaan yang bisa menimbulkan jawaban-jawaban yang dangkal.
c.    Memperbaiki kata-kata yang terlalu asing, akademik atau kata yang menimbulkan kecurigaan.
d.   Menambahkan item yang sangat perlu atau meniadakan item yang ternyata tidak relevan dengan tujuan penelitian.






5.    Analisis Item
Setelah uji coba dilakukan maka kegiatan selanjutnya adalah melakukan analisis butir soal, untuk melihat keberadaan soal-soal yang disusun baik atau tidak. Suharsimi (2008: 207) mengemukakan bahwa:
Tujuan analisis butir soal yaitu untuk mengadakan identifikasi soal-soal yang baik, kurang baik, dan soal yang jelek. Dengan analisa soal dapat diperoleh informasi tentang kejelekan sebuah soal dan “petunujuk” untuk mengadakan perbaikan.

Komponen yang perlu diperhatikan dalam melakukan analisa butir item adalah tingkat kesukaran, daya pembeda, serta reliabilitas tes.
a.     Tingkat Kesukaran Butir Soal
Untuk mengetahui tingkat kesukaran soal yang berbentuk uraian  digunakan  rumus yang dikemukakan oleh Depdiknas (2001: 26-27) yaitu:
Dengan kriteria sebagai berikut:
Tabel  : Kriteria tingkat kesukaran soal

Indeks tingkat kesukaran
Kriteria
0,00 - 0,30
Soal tergolong sukar
0,31 - 0,70
Soal tergolong sedang
0,71 - 1,00
Soal tergolong mudah


b.      Indeks Daya Pembeda Soal
Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (menguasai materi yang ditanyakan), dan siswa kurang pandai (belum menguasai materi yang ditanyakan). Untuk mencari indeks daya pembeda ini biasanya juga dinyatakan dalam bentuk proporsi di mana semakin tinggi indeks daya pembeda soal berarti semakin mampu soal bersangkutan membedakan siswa yang pandai dengan yang kurang pandai.
Untuk mengetahui daya pembeda soal bentuk essay digunakan rumus yang dikemukakan oleh Depdiknas (2001: 28) yaitu:
                    
Menurut Depdiknas (2001: 28) bahwa klasifikasi daya pembeda soal adalah sebagai berikut:
         Kriteria indeks daya pembeda
Indeks Daya Pembeda
Kriteria
0,40-1,00
Butir soal diterima/baik
0,30-0,39
Butir soal diterima/diperbaiki
0,20-0,29
Butir soal diperbaiki
0,00-0,19
Butir soal tidak dipakai


Berberdasarkan kriteria tingkat kesukaran soal dan kriteria daya pembeda soal maka kriteria soal adalah sebagai berikut sesuai dengan tabel di bawah ini:
 Kriteria Gabungan TK dengan DP

Kriteria Tingkat
Kesukaran Soal (TK)
Kriteria Daya
Pembeda Soal (DP)
Keterangan
0,30  TK  0,70
0,40  DP  1,00
Soal Dipakai
0,30  TK  0,70
0,15  TK  0,29 atau 0,71  TK  0,85
0,20  DP  0,29
0,30  DP  1,00
Soal diperbaiki
0,00-1,00
< 0,20
Soal dibuang

c.     Reliabilitas
Reliabilitas tes adalah suatu ukuran apakah tes tersebut dapat dipercaya. Sudjana (2005: 120) mengatakan bahwa “Reliabilitas alat ukur adalah ketepatan alat tersebut dalam mengukur apa yang diukurnya. Artinya, kapan pun alat ukur tersebut digunakan akan memberikan hasil ukur yang sama”.
Untuk menentukan reliabilitas tes digunakan rumus yang dikemukakan oleh Suharsimi (2008: 109) yaitu:
Dimana:
                           = reliabilitas yang dicari
            n                  = banyak soal
             = jumlah varians skor tiap-tiap item
                           = varians total



                  Tabel : Kriteria Reliabilitas

Reliabilitas
Kriteria
0,80 <
korelasi sangat tinggi
0,60 < 0,80
korelasi tinggi
0,40 < 0,60
korelasi sedang
0,20 < 0,40
korelasi rendah
0,00 < 0,20
korelasi sangat rendah

6.    Pelaksanaan Tes Akhir
               Setelah melaksanakan proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama) pada kelas eksperimen dan pembelajaran biasa pada kelas kontrol, maka diadakan tes akhir. Tes akhir ini diberikan kepada kedua kelompok yaitu, kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

F.   Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang penulis gunakan adalah analisis perbedaan dengan menggunakan rumus t-test. Dengan analisis data ini penulis melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1.        Uji Normalitas
Melakukan uji normalitas terhadap masing-masing kelompok data dengan menggunakan uji Liliefors. Dalam uji normalitas akan diuji hipotesis bahwa data hasil belajar matematika siswa kedua kelas sampel berdistribusi normal. Untuk pengujian hipotesis ini Sudjana (2005: 466-467) mengemukakan langkah-langkah uji Liliefors sebagai berikut:
a.       Data diperoleh dan disusun dari data yang terkecil sampai yang terbesar.
b.      Data dijadikan bilangan baku  dengan menggunakan rumus:
Dimana:
s                =     Simpangan baku
              =     Skor rata-rata
c.       Dengan menggunakan daftar distribusi normal baku dihitung peluang
d.      Menghitung jumlah proporsi skor baku yang lebih kecil atau sama  yang dinyatakan dengan S( ) dengan menggunakan rumus:
                 
e.       Menghitung selisih antara F( ) dengan S( ) kemudian tentukan harga mutlaknya.
f.       Ambil harga mutlak yang terbesar dari harga mutlak selisih itu diberi simbol
g.    Kemudian bandingkan  dengan nilai kritis yang diperoleh dari daftar nilai kritis untuk uji Liliefors pada taraf . Kriterianya adalah terima H0 bahwa data hasil belajar berdistribusi normal jika .

2.        Uji Homogenitas Variansi
Uji homogenitas variansi bertujuan untuk melihat data hasil belajar kedua kelas sampel mempunyai variansi yang homogen atau tidak. Untuk mengujinya dilakukan uji F. Dalam hal ini akan diuji  dimana  dan  adalah simpangan baku dari masing-masing kelompok.
Rumus yang digunakan untuk menguji hipotesis ini menurut Sudjana (2005: 249) adalah:
                     
Dengan:
      =     Variansi terbesar hasil belajar kelompok sampel
      =     Variansi terendah hasil belajar kelompok sampel
Kriteria pengujian adalah terima hipotesis H0 jika    dimana   dalam kondisi lain H0 di tolak.
3.        Uji Perbedaan Rata-rata
Untuk menentukan apakah terdapat perbedaan hasil belajar siswa dari kedua kelompok sampel tersebut, dilakukan uji perbedaan rata-rata. Pasangan hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah:
 :     Hasil belajar matematika siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama)  tidak lebih baik atau sama dengan hasil belajar matematika siswa yang pembelajarannya menggunkan pembelajaran biasa
:   Hasil belajar matematika siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Co-op Co-op (kerja sama)  lebih baik dari hasil belajar matematika siswa yang pembelajarannya menggunkan pembelajaran biasa
Jika data hasil belajar kedua kelas sampel berdistribusi normal dan mempunyai variansi homogen, maka uji statistik yang digunakan menurut Sudjana (2005: 239) adalah:
 dengan
Dimana:
                  =     Nilai rata-rata kelompok eksperimen
                  =     Nilai rata-rata kelompok kontrol
                   =     Jumlah siswa kelompok eksperimen
                  =     Jumlah siswa kelompok kontrol
                  =     Variansi hasil belajar kelas eksperimen
                  =     Variansi hasil belajar kelas kontrol
Kriteria:
Terima H0 jika  atau , dengan  selain itu H0 ditolak.
Apabila data hasil belajar kedua kelas sampel berdistribusi normal tetapi mempunyai variansi yang tidak homogen, maka uji statistik yang digunakan adalah :
            Kriteria pengujian menurut Sudjana (2005:243) adalah:
            Tolak  jika  dan terima  jika                       
Dengan :              


      
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2008. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Asma, Nur. 2008. Model Pembelajaran Kooperatif. Padang: UNP Press.
Depdiknas. 2001. Penyusunan Butir Soal dan Instrumen Penilaian. Jakarta: Depdiknas.
Djafar, Tengku Zahara. 2001. Kontribusi Strategi Pembelajaran Terhadap Hasil Belajar.   Padang: FIP UNP.
Febrika, Melzi. 2009. Perbandingan Hasil Belajar Matematika Siswa yang Menggunakan LKS Dengan yang Tidak pada Pembelajaran Kooperatif di Kelas VII SMPN 26          Padang. Padang: Universitas Bung Hatta.
Fitri, Husnul. 2007. Studi tentang penerapan metode belajar aktif tipe berbagi pengetahuan           secara aktif pada siswa kelas X Tilatang Kamang. Padang.
Hamalik, Oemar. 2007. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Hadi, Sutrisno. 1997. Cara Menghitung Validitas, Reliabilitas dan Analisa Item dan Teknik-          teknik Korelasi. Jakarta: Psikologi UGM.
Ibrahim, Muslimin. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: university prees.
Lie, Anita. 2002. Cooperatif Learning. Jakarta: Grasindo.
Muliyardi. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika. Padang: MIPA UNP.
Nazir, M. 2003. Metodologi Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Sardiman, A.M. 2006. Interaksi dan motivasi belajar mengajar. Jakarta: Grafindo.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rhineka        Cipta.
Slavin, Robert. E.  2010.  Cooperatif Learning ( Teori Riset dan Praktik ).  Bandung: Nusa Media.
Sudjana. 2005. Metoda Statistika. Bandung: Transito.
Suhendra, Anton. 2010. Penerapan Strategi Active Learning Tipe Learning Starts With a Question Dalam Pembelajaran Matematika Siswa Kelas X MAN Koto Baru Padang Panjang. Padang.
Suryabrata, Sumadi. 2004. Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada: PT Raja Gravindo Persada.
 Tim FKIP. 1993. Pedoman Penulisan Skripsi. Padang: Universitas Bung Hatta.



                            




1 komentar:

  1. CERITA KISAH SUKSES SAYA SAAT PROSES PENGURUSAN DANA BANTUAN DARI KEMENDIKBUD PUSAT JAKARTA

    Assalamualaikum sebelum'nya perkenal'kan nama saya drs manire kepala sekolah SD Nrgeri 30 Ambon NPSN 601002080 alamat jl sultan babullah kel.silale kec. Nusaniwe kota ambon prov.Maluku, mohon maaf sebelum'nya saya ingin berbagi cerita kepada jajaran kepala sekolah yang lain mengenai perjuangan pembangunan sekolah saya, alhamdulillah sekolah saya sekarang sudah sementara renovasi, pembangunan dan melengkapi isi ruang perpustakaan berkat dana bantuan dari pusat, mulah'nya saya sangat sedih melihat kondisi sekolah saya dan saya pun beberapa kali mengirim berkas proposal ke pemerintah setempat namun tidak ada sama sekali respon dari pemerintah setempat, tapi saya tidak pernah menyerah dalam menghadapi masalah ini dan setiap ibadah aku selalu memohon doa dan petunjuk, alhamdulillah suatu hari itu saya ke dinas pendidikan provensi untuk meminta perhatian kepada kepala dinas, namun kadis prov tidak ada respon juga, alhamdulillah ada salah satu krabat saya yang kebetulan dinas di depdiknas ambon maluku, krabat saya memberikan arahan untuk melapor'kan hal ini ke pusat mendiknas jakarta dan beliau pun juga memberikan nomor ponsel/hp= 082312345305 kepala biro umum bpk DR.SUTANTO S.H.,M. A. beliau menjabat di kemendiknas pusat jakarta, setelah satu minggu kemudian saya memberikan diri menghubungi beliau dan meminta bantuan dalam masalah sekolah saya dan waktu itu saya sempat curhat masalah kondisi sekolah saya dan alhamdulillah beliau ada respon memberikan arahan untuk mempersiapan proposal untuk di kirim ke pusat, alhamdulillah setelah proposal saya tiba di jakarta beliau menghubungi saya untuk menutupi segera pos pos adimistrasi pengurusan berkas'nya, setelah saya ikuti arahan beliau satu minggu kemudian saya mendapat tlp dari beliau dan beliau menyampai'kan bahwa dana'nya sudah masuk ke rekening sekolah, waktu itu saya langsun ke bank BPD kota ambon untuk cek rekening sekolah dan setelah saya serah'kan buku rekening tabungan kepada teller bank dan teller bank menyampaikan dana sudah masuk senilai 250.000.000,00 alhamdulillah saat itu saya tidak sadar'kan diri sujud di depan teller bank, alhamdulillah kini sekolah saya sudah sementara proses pembangunan berkat bantuan bpk DR.SUTANTO S.H.,M.A. beliau selaku kepala biro umum di kemendiknas pusat jakarta, terima kasih kepada bpk dr sutanto moga sukses selalu dan di beri umur panjang amin.

    BalasHapus